Dinkes Catat 2.847 Kasus Penyakit Menular, ISPA Dominasi 86 Persen
PAREPARE — Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Sulawesi Selatan perlu diwaspadai bukan hanya karena dampaknya terhadap ketersediaan air, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat.
Di Kota Parepare, data Dinas Kesehatan menunjukkan 2.847 kasus penyakit menular tercatat dalam periode Minggu ke-28 hingga Minggu ke-31 Tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 2.457 kasus merupakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Angka itu berarti sekitar 86 persen dari seluruh kasus penyakit menular yang tercatat dalam laporan Puskesmas se-Kota Parepare selama empat minggu tersebut.
Yang menjadi perhatian, kasus ISPA justru menunjukkan peningkatan dalam dua pekan terakhir. Setelah tercatat 567 kasus pada minggu ke-28 dan 561 kasus pada minggu ke-29, jumlahnya melonjak menjadi 663 kasus pada minggu ke-30 dan kembali meningkat menjadi 666 kasus pada minggu ke-31.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Parepare, Muhammad Idris, SKM., M.Kes, menyampaikan kondisi tersebut kepada wartawan di tengah periode kemarau yang relatif panjang, Senin 17 AGUSTUS 2026.
Kondisi cuaca kering dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan. Udara yang kering dapat memengaruhi lapisan pelindung saluran pernapasan, sedangkan debu dan polusi udara dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa kemarau berkepanjangan yang disertai pencemaran udara dapat meningkatkan kasus ISPA.
Namun demikian, data Dinkes Parepare tersebut belum dapat membuktikan bahwa kemarau secara langsung menyebabkan tingginya kasus ISPA. Diperlukan analisis lebih lanjut dengan membandingkan data kasus ISPA dengan kondisi cuaca, kelembapan, kualitas udara, paparan debu maupun kejadian kebakaran di wilayah Parepare.
Madising Na Mario Tertinggi
Dari delapan Puskesmas yang tercatat dalam laporan, kasus ISPA tertinggi selama empat minggu ditemukan di Puskesmas Madising Na Mario sebanyak 420 kasus.
Selanjutnya Puskesmas Lumpue mencatat 418 kasus, Puskesmas Lappadde 391 kasus, Puskesmas Cempae 377 kasus, Puskesmas Lakessi 352 kasus, Puskesmas Lompoe 261 kasus, Puskesmas Lemoe 128 kasus dan Puskesmas Lauleng Bukit Harapan 110 kasus.
Tren peningkatan pada minggu ke-30 dan ke-31 menjadi perhatian karena terjadi ketika kondisi lingkungan memasuki periode kering.
Selain ISPA, laporan dari Dinkes mencatat 295 kasus diare akut dan 95 kasus demam tifoid.
Kasus diare tertinggi terdapat di Puskesmas Cempae dengan 72 kasus, sedangkan tifoid tertinggi juga tercatat di Puskesmas Cempae sebanyak 42 kasus.
Debu dan Asap Jadi Ancaman
Musim kemarau tidak hanya membawa persoalan suhu panas dan kekeringan. Kondisi kering dapat membuat debu lebih mudah beterbangan. Jika ditambah asap kendaraan, pembakaran sampah, maupun asap kebakaran lahan, kualitas udara dapat semakin memburuk.
Kementerian Kesehatan menyebut debu halus, asap kendaraan dan polusi industri dapat merusak atau mengiritasi saluran pernapasan serta meningkatkan risiko ISPA.
Karena itu, masyarakat Parepare diimbau lebih memperhatikan kesehatan pernapasan selama musim kemarau.
Penggunaan masker ketika berada di lingkungan berdebu atau kualitas udara buruk, memperbanyak konsumsi air, menjaga kebersihan tangan, menghindari asap rokok dan pembakaran sampah terbuka, serta mengurangi aktivitas luar ruangan ketika udara tidak sehat menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan.
Sebab, ketika kemarau semakin panjang dan kasus ISPA justru meningkat, kesehatan masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari mitigasi dampak kekeringan di Kota Parepare.(*)