Beranda » Kearifan Lokal Dari Getah Pepaya, Dangke, Keju Tradisional yang Memikat Lidah

Kearifan Lokal Dari Getah Pepaya, Dangke, Keju Tradisional yang Memikat Lidah

Bagikan

ENREKANG, VOICESULSEL – Dangke adalah sebutan keju dari daerah Enrekang, Sulawesi Selatan, merupakan makanan tradisional yang rasanya mirip dengan keju, namun tampilan dan teksturnya mirip dengan tahu yang berwarna putih bersih hingga kekuningan.
Makanan khas ini dibuat dengan bahan dasar susu segar dari sapi atau kerbau yang digumpalkan dengan menggunakan bahan alami atau tanpa pengawet buatan.

Oleh sebab itu dangke memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, dan aman untuk dikonsumsi, walaupun hanya bisa bertahan beberapa hari saja pada suhu ruang tertentu.
Makanan ini memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat Enrekang dan sekitarnya, terutama di kalangan suku Bugis. Secara tradisional, dangke sering disajikan dalam berbagai acara, baik itu upacara adat, perayaan, maupun sebagai makanan sehari-hari.

Karena proses pembuatannya yang memerlukan keterampilan khusus, dangke juga dianggap sebagai simbol dari kearifan lokal dan tradisi turun-temurun masyarakat Masenrempulu.
Makanan ini menggambarkan kekayaan kuliner daerah Sulawesi Selatan, di mana dangke tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga nilai budaya yang mendalam.

Selain itu, dangke menjadi salah satu produk unggulan yang menghubungkan masyarakat Enrekang dengan warisan budaya mereka, yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Salah satu pembuat dangke, Ibu Irma (50), yang berpengalaman dalam pembuatan dangke selama lebih dari 30 tahun, menjelaskan bagaimana dangke dibuat dengan cara yang masih menggunakan resep turun-temurun.

“Sebelum membuat dangke kita harus melakukan pemerahan. Pemerahan susu sapi biasanya di lakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Dalam sehari terkadang ada sekitar 10 liter yang di hasilkan” ujar ibu Irma.
Proses pembuatan:
Dangke dibuat dengan bahan dasar dari susu sapi atau susu kerbau yang diperah dan diolah di hari yang sama. Masukkan susu kedalam panci/wajan. Susu yang di tuangkan ke dalam panci/wajan tidak boleh langsung di aduk, agar nutrisi susu tidak hilang. Rebus susu hingga panas dengan suhu sekitar 70°-80° C.
Sebelum susu mendidih masukkan getah pepaya yang telah di iris. Gunakan getah pepaya secukupnya, jika terlalu berlebihan maka rasa Dangke akan terasa pahit. Setelah getah pepaya di masukkan aduk susu hingga menggumpal/padat dan terpisah dengan kandungan air dari susu. Setelah susu sudah menggumpal/padat dan mirip dengan tahu kenyal, saring susu yang menggumpal ke dalam wadah.
Susu yang telah di saring, masukkan ke dalam cetakan. Cetakan yang digunakan adalah tempurung kelapa. Kemudian ditekan-tekan dan membuang sisa-sisa air yang ada dalam cetakan, agar gumpalan susu tidak terbongkar jika di keluarkan dari cetakan. Setelah di cetak, letakkan susu ke daun pisang kemudian bungkus setengah. Tunggu beberapa saat agar dangke agak mengeras dan siap dinikmati.
Dangke dapat langsung disajikan sebagai lauk tinggi protein atau diolah lagi menjadi variasi makanan lain seperti dangke bakar, dangke tumis, kerupuk dangke dan lain-lain.
“Pembuatan dangke tidak boleh sembarangan. Kita harus menggunakan susu sapi segar dan bahan alami agar tetap enak dan aman. Setelah susu difermentasi, kita bungkus dengan daun pisang supaya aromanya dan teksturnya terjaga. Kalau untuk bahan alami seperti pepaya itu kita ambil getahnya dengan cara kulitnya diiris tipis. Getah pepaya berguna untuk susu yang di masak tadi bisa menjadi gumpalan dan terpisah dari air. Susu yang menjadi gumpalan itulah disebut dengan Dangke”, ujar ibu Irma.
Daun pisang yang digunakan tidak hanya berfungsi untuk membungkus, tetapi juga memberikan rasa yang lebih harum pada dangke, serta menjaga agar teksturnya tetap kenyal dan lezat. Proses fermentasi yang unik ini menghasilkan dangke dengan cita rasa yang gurih, sedikit asam, dan tekstur kenyal yang memanjakan lidah.
“Saya sangat menyukai Dangke baik dimakan langsung maupun dipadukan dengan makanan lain, tergantung situasi dan selera saat itu. Jika dimakan langsung, rasa gurih alami Dangke dapat dinikmati sepenuhnya, memberikan pengalaman rasa yang otentik. Ini biasanya menjadi pilihan saya ketika ingin camilan yang ringan tetapi memuaskan. Namun, ketika digunakan sebagai pelengkap hidangan, Dangke mampu menghadirkan dimensi rasa yang berbeda. Dipadukan dengan nasi hangat misalnya, Dangke memberikan kelezatan yang harmonis, sementara jika dimasak bersama sayuran, seperti ditumis atau dipanggang, rasa gurihnya berpadu sempurna dengan tekstur dan rasa bahan lainnya. Fleksibilitas ini menjadikan Dangke sebagai bahan makanan yang dapat disesuaikan dengan berbagai hidangan, sekaligus mempertahankan cita rasa uniknya”, ujar Ibu Ani (39) asal Enrekang salah satu penikmat dangke .
Dangke sangat enak dan tidak hanya di jadikan sebagai camilan saja tetapi juga bisa di padukan dengan berbagai lauk lainnya. Tidak hanya di jadikan sebagai camilan saja, tetapi juga dapat dipadukan dengan berbagai macam makanan lainnya, seperti nasi atau sayuran sehingga menambah variasi dalam kuliner.
Bagi anda yang penasaran dengan cita rasa unik Dangke, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi makanan tradisional ini. Dengan mengunjungi Enrekang, anda tidak hanya dapat menikmati keindahan alamnya, tetapi juga merasakan kelezatan Dangke yang dibuat dengan penuh cinta dan keahlian.

Penulis: Fitriyani Suhasti
Editor: Awaluddin Qadir