JAYAPURA, VOICESULSEL — Sebuah tragedi memilukan kembali mencoreng wajah pelayanan kesehatan di Tanah Air. Seorang ibu hamil asal Kampung Kensio, Danau Sentani, Papua, bernama Irene Sokoy, meninggal dunia setelah ditolak empat rumah sakit rujukan dalam kondisi darurat. Padahal sebagai warga negara, ia berhak atas pelayanan kesehatan yang layak dan cepat.
Awal Kejadian: Kontraksi di Kampung Tanpa Fasilitas Kesehatan
Dilansir dari berbagai sumber, peristiwa bermula pada Minggu (16/11) ketika Irene mengalami kontraksi di kampungnya. Karena tidak ada fasilitas kesehatan di wilayah itu, keluarga membawa Irene menggunakan speedboat menuju RSUD Yowari, dengan perjalanan sekitar 30 km atau 40–50 menit.
“Tiba tepat jam tiga. Tensi normal, detak jantung bayi stabil, pembukaan lima sentimeter,” kata Ivan Ibo, adik Irene.
Karena pembukaan tak kunjung bertambah, Irene dipindahkan ke ruang bersalin pada pukul 18.00 WIT. Dokter jaga lalu menyarankan penggunaan obat perangsang yang harus ditebus keluarga di apotek rumah sakit.
Kondisi Memburuk, Dokter Tidak Ada
Pukul 20.00 WIT, air ketuban Irene pecah. Kondisi janin melemah dan dokter merekomendasikan operasi caesar. Namun dokter kandungan di RSUD Yowari tidak berada di tempat.
“Kami panik. Kalau memang tidak ada dokter, kenapa waktu terima pasien tidak bilang?” ujar Alfonsina Kabey, ipar Irene.
Lebih parah lagi, ambulans baru tersedia sekitar pukul 01.22 WIT, setelah keluarga menunggu hampir dua jam.
Rujukan 1: RS Dian Harapan – Ruangan Penuh
Setibanya di RS Dian Harapan, Waena, Irene tidak dapat dirawat.
“BPJS kelas 3, tapi ruangan full,” kata Ivan.
Rujukan 2: RSUD Abepura – Ruang Operasi Ditutup
Di rumah sakit kedua, keluarga hanya mendapat jawaban singkat: ruang operasi sedang direnovasi sehingga pasien tidak bisa ditangani.
Rujukan 3: RS Bhayangkara Jayapura – Diminta Uang Muka Rp4 Juta
RS ketiga dalam rujukan justru meminta uang muka Rp4 juta jika ingin memanfaatkan ruang VIP. Padahal Irene adalah peserta BPJS Kesehatan kelas 3 yang dibiayai pemerintah.
“Tidak ada tindakan medis karena kami tidak punya uang sebanyak itu. Penanganan hanya dilakukan di dalam mobil,” ujar Ivan.
Menuju RS ke-4, Nyawa Irene Melayang
Keluarga kembali diarahkan ke RS Dok II Jayapura. Namun di tengah perjalanan kondisi Irene makin memburuk.
“Sebelum pingsan, kakak bilang, ‘saya sudah tidak bisa’. Setelah itu tutup mata,” tutur Ivan dengan suara bergetar.
Keluarga memutar balik ke RS Bhayangkara, tetapi ketika alat pemeriksaan dipasang, semuanya tidak menunjukkan aktivitas. Irene diyakini meninggal dalam perjalanan sebelum kembali tiba di rumah sakit.
Resmi Meninggal
Irene Sokoy dinyatakan meninggal pada Senin (17/11/2025) pukul 05.00 WIT, setelah melewati rujukan panjang mulai dari RSUD Yowari, RS Dian Harapan, RSUD Abepura, hingga RS Bhayangkara, tanpa mendapatkan perawatan memadai.