LSM Lingkar Hijau Kota Parepare Sulawesi Selatan melakukan studi tiru di Denpasar Bali. Mereka datang untuk melihat langsung pengelolaan bantaran sungai yang bernilai ekonomi
Reporter : Fatur Sakke
Dari : Bali Indonesia
DENPASAR, VOICESULSEL — LSM Lingkar Hijau Kota Parepare melakukan kunjungan studi tiru di Kota Denpasar Provinsi Bali. Rombongan dipimpin Ketua LSM Lingkar Hijau Ikbal Rahim Gani yang bertolak dari Parepare pada Jumat pekan lalu.
Ketua LSM Lingkar Hijau, Ikbal Rahim Gani (IRG) mengaku pihaknya sedang melakukan perbandingan sistem pengelolaan bantaran sungai di Kota Denpasar. Disana, ia berkesempatan mengunjungi salah satu sungai tersohor di Denpasar sebagai objek destinasi wisata yang indah.
Nama sungai itu dikenal dengan Tukad Bindu. Sungai ini membelah bagian timur Kota Denpasar. Keberadaannya menjadi magnet tersendiri bagi pewisata yang berkunjung ke Kota itu.
IRG mengaku terpukau akan landskap dan penataan sungai yang sangat asri tersebut. Ia bilang, dirinya sudah mendapatkan gambaran tentang penataan kawasan bantaran sungai, setelah bertemu dengan penanggung jawab sungai wisata Tukad Bindu.
“Dari sini kami bisa melihat wujud implementasi dari apa yang disebut dengan bantaran sungai. Paling tidak kami sudah mendapatkan konsep apa yang menarik dan bisa diterapkan di Parepare,” katanya.
Menurut Ikbal, dari sisi pengelolaan sungai, pihak pemerintah Kota Denpasar dan ketua adat setempat memberikan masukan tentang pengelolaan alam dan lingkungan. Ia mendapatkan pencerahan sekaitan dengan pemikiran menjaga sungai tetap bersih dan bermanfaat khususnya dalam membangkitkan sektor ekonomi warga.
“Ini menjadi PR kami, bagaimana kami mampu meniru dan memodifikasi agar bisa diterapkan di daerah kami,” jelas pria bergaya khas itu.

Sementara itu Koordinator Pengawas dan Inisiator Sungai Tukad Bindu, I Gusti Rai Ari Temaja se mengatakan, pendiri yayasan Tukad Bindu itu bergerak dengan misi penyelamatan lingkungan sungai, khususnya manusia yang tinggal di sekitar bantaran sungai itu sendiri.
“Yang kita selamatkan disini adalah mindset manusianya agar tidak terkadung dan memiliki konsep kesadaran. Sungai yang sudah bersih ini mau diapain, kalau sudah ditata mau diapain lagi, minimal mereka sadar akan adanya nilai ekonomi yang bertumbuh disini, dan masyarakat tumbuh dengan cinta lingkungan yang sehat dan berdaya ekonomi,” kata pria yang akrab disapa Pak Gunnik itu.
Ia bilang, dalam menata kawasan tersebut, masyarakat bantaran dididik untuk berbuat yang terbaik terhadap lingkungan dan efeknya akan kembali pada dirinya sendiri.
“Kita jangan berpikir bahwa bekerja akan dapat uang, tetapi uang yang akan datang setelah kita melakukan sesuatu yang terbaik,” papar dia.
Disebutkan bahwa bantaran sungai yang mengalir sepanjang 2 km itu didiami ±8.000 jiwa. Setiap saat pihaknya mengajak mereka untuk berpartisipasi menjaga kebersihan dan keindahan sungai sebagai objek wisata.
Bahkan kata dia, kedepan pihak yayasan berencana membuat nomenklatur untuk menetapkan nama-nama tumbuhan yang ada disekitar sungai Tukad Bindu. Konon saking lestarinya, pohon-pohon itu tumbuh dikawasan tersebut sudah berabad-abad lamanya.(*)