Beranda ยป Banjir Beras, Warga Diminta Tidak Panik Buying. Bulog Siapkan 10 Ribu Ton

Banjir Beras, Warga Diminta Tidak Panik Buying. Bulog Siapkan 10 Ribu Ton

Suasana pasar murah yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Pemkot Parepare di Halaman Islamic Center Parepare
Bagikan

PAREPARE, VOICESULSEL — Antrian masyarakat di sejumlah daerah untuk mendapatkan beras Bulog atau SPHP masif terlihat. Hal itu disebabkan karena kekhawatiran beras di pasar hilang atau harga yang melambung tinggi.

Hal sama juga terjadi di Kota Parepare, Rabu 6 Maret 2024. Pada pelaksanaan Gerakan Pangan Murah yang dilakukan Pemerintah Sulsel secara serentak, warga berjubel mendapatkan antrian untuk sekedar membeli 2 karung beras kemasan 5 kg.

Pimpinan Cabang Bulog Parepare, Jusri Pakke saat memantau pelaksanaan pasar murah

Pimpinan Bulog Parepare, Jusri Pakke menghimbau masyarakat agar tidak Panik Buying. Sebab, Bulog kata Jusri menyimpan sedikitnya hingga 10 ribu ton beras yang siap disalurkan.

“Hari ini kita bawa 10 ton dengan harga 10.400 perkilo dengan kemasan 5 kilo,” katanya kepada wartawan.

Jusri mengaku siap melayani masyarakat yang membutuhkan beras. Bahkan di pasar maupun di tempat-tempat mitra Bulog, beras sejenis juga digelontorkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Bahkan di pasar itu sudah banyak kita gelontorkan sejak November lalu, hanya saja harganya lebih diatas sedikit, selisih Rp 500 rupiah perkilo dibandingkan dengan operasi pasar murah,” ujarnya.

Yang memicu beras mahal kata Jusri adalah beras lokal yang kurang di pasaran. Beras jenis ini umum dikonsumsi masyarakat. Namun harganya melambung mencapai Rp 15 ribu perkilogram. Hal ini disebabkan oleh mundurnya jadwal panen petani.

“Yang tidak ada di pasar itu beras lokal, karena faktor cuaca El Nino, nanti April atau Mei baru beras lokal ada, karena petani sudah penen, tapi untuk beas Bulog selalu ada,” jelas dia.

Ia menghimbau masyarakat untuk tidak takut dengan melakukan panik buying, sebab cadangan beras pemerintah masih banyak. “Masyarakat tidak perlu takut, karena cadangan beras pemerintah masih banyak,” imbuhnya.

Perbedaan beras SPHP dengan beras lokal

Sesuai informasi yang dihimpun, ada perbedaan mendasar dari beras Bulog (SPHP) dengan beras petani lokal.

Kepala Bulog mengaku, beras SPHP secara kualitas lebih keras dan berbeda dengan beras lokal petani yang rasanya lebih pulen. “Kalau bedanya, selain harga murah, beras Bulog sedikit lebih keras, sedangkan beras lokal lebih pulen,” jelasnya.

Secara ekonomi, beras Bulog biasa digunakan oleh para penjual sebagai campuran beras lokal. Pedagang kerap mencampur antara beras Bulog dengan beras lokal lalu diedarkan di pasar.

“Tujuannya pasti untuk mendapatkan nilai ekonomi atau keuntungan,” timpal seorang warga di lokasi GPM Halaman Islamic Center Parepare.(ak)