PAREPARE — Ancaman kebakaran di tengah musim kemarau menjadi perhatian media VOICESULSEL.com. Bukan hanya karena api dapat menghanguskan rumah dan harta benda dalam hitungan menit, tetapi juga karena potensi kebakaran dapat muncul dari lingkungan yang tidak terawat, lahan kering, hingga kelalaian manusia.
Pesan itu menjadi salah satu alasan digelarnya kerja bakti bertema ‘Karya Bakti, Kolaborasi dan Jurnalisme Membangun’, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81 sekaligus HUT ke-5 VOICESULSEL, di Sekretariat PWI Parepare, Jalan Karaeng Burane No. 2, Minggu (16/8/2026).
Wakil Ketua PWI Parepare sekaligus Direktur VOICESULSEL.com, Awaluddin Hindi, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap potensi ancaman kebakaran di wilayah perkotaan.
Menurut dia, dalam tiga bulan terakhir terdapat ratusan peristiwa kebakaran yang menjadi catatan dan menunjukkan bahwa persoalan kebakaran tidak cukup hanya ditangani ketika api sudah berkobar.
“Kegiatan ini sebenarnya didasari atas potensi ancaman kebakaran khususnya di wilayah perkotaan,” katanya dalam wawancara, Sabtu (15/8/2026).
Kekhawatiran itu bukan tanpa konteks. Dalam beberapa pekan terakhir, Parepare menghadapi sejumlah peristiwa kebakaran. Dua rumah di kawasan Kampung Baru terbakar pada Juli dan api dilaporkan cepat membesar di tengah angin kencang serta material bangunan yang mudah terbakar. Pada akhir Juli, kebakaran lahan di kawasan Wattang Bacukiki juga menghanguskan sekitar dua hektare lahan.
Bangunan Kosong Jadi Titik Rawan
Lokasi kegiatan di Sekretariat PWI Parepare juga dipilih bukan tanpa alasan.
Awal menunjuk bangunan kosong di sebelah sekretariat PWI. Tumbuhan liar yang merambat dan kondisi lingkungan yang tidak terawat dinilai dapat menjadi bahan bakar ketika berhadapan dengan kondisi panas dan kering.
Di sebelah ini ada gedung kosong. Ada banyak tumbuhan liar yang merambat dan ini rawan menimbulkan kebakaran,” ujarnya.
Kondisi lingkungan seperti itu, menurutnya, membutuhkan kepedulian bersama. Karena itu, kerja bakti tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan lingkungan, tetapi juga sebagai langkah sederhana untuk mengurangi potensi sumber kebakaran.
Sebelum Kerja Bakti, Warga Belajar Hadapi Api
Kegiatan tersebut akan diawali dengan penyuluhan dan edukasi mitigasi kebakaran oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Kota Parepare.
Analis Kebakaran Ahli Muda Dinas Pemadam Kebakaran Kota Parepare, Safruddin, SH., MH, mengatakan materi yang diberikan kepada peserta berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
“Materi terkait pencegahan dan penanggulangan kebakaran, mewujudkan lingkungan aman, selamat dan bebas dari kebakaran,” kata Safruddin.
Tidak berhenti pada materi lisan, peserta juga akan mendapatkan pembekalan praktik mengenai cara menghadapi risiko kebakaran.
Konsep tersebut dinilai penting karena pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Masyarakat perlu memahami sumber risiko, langkah awal ketika terjadi kebakaran, serta bagaimana bertindak secara aman sebelum petugas tiba.
Damkar Bukan Sekadar Datang Saat Api Membesar
Awaluddin juga menyoroti pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap petugas pemadam kebakaran.
Ia menyebut masih ada cerita miring di tengah masyarakat mengenai motto Damkar yang sering diasosiasikan dengan ungkapan “pantang pulang sebelum padam”.
Padahal, menurutnya, masyarakat perlu melihat sisi lain dari pekerjaan petugas Damkar yang setiap saat berhadapan dengan risiko untuk menyelamatkan warga dan harta benda.
“Beberapa warga justru memberikan penilaian negatif, padahal kita tahu Damkar sudah sangat bekerja keras untuk menolong dan membantu,” katanya.
Karena itu, kehadiran Damkar dalam kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum edukasi, tetapi juga ruang untuk mendekatkan masyarakat dengan petugas yang selama ini berada di garis depan ketika musibah kebakaran terjadi.
Kemerdekaan Diisi dengan Kerja Nyata
Bagi media VOICESULSEL dan Pengurus PWI, kegiatan ini sekaligus menjadi cara sederhana mengisi momentum kemerdekaan.
Awal menambahkan semangat kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Semangat itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata, saling membantu dan membangun kepedulian.
“Pekerjaan yang berat sekalipun bisa kita ringankan karena ada suasana kemerdekaan dan kebersamaan,” ujarnya.
Momentum tersebut semakin bermakna karena bertepatan dengan HUT ke-5 VOICESULSEL. Ini menjadi kali pertama media tersebut menggelar kegiatan karya bakti sebagai bagian dari peringatan ulang tahunnya.
Atas dasar semangat kolaborasi, media VOICESULSEL bersama PWI Parepare, pemerintah kota melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan, mahasiswa, serta berbagai pihak lainnya.
“Karena kita ingin berkolaborasi, maka sekalian saya juga mengajak adik-adik mahasiswa untuk terlibat,” kata Awaluddin.
Jurnalisme Tak Berhenti di Berita
Kegiatan ini sekaligus menegaskan gagasan media VOICESULSEL bahwa jurnalisme tidak semata-mata bekerja melalui berita.
Media, kata Awal, juga dapat mengambil bagian dalam membangun kesadaran masyarakat, mempertemukan berbagai pihak, dan mendorong tindakan nyata terhadap persoalan di lingkungan sekitar.
Harapannya sederhana: kegiatan ini menjadi simbol bagaimana anak bangsa mengisi kemerdekaan dengan kegiatan produktif.
“Berbuat dan bekerja untuk saling tolong-menolong, bantu-membantu. Padaidi, padaelo, sipatuo, sipatokkong,” tuturnya.
Filosofi masyarakat Bugis tersebut, menurut Awaluddin, perlu terus digaungkan karena sejalan dengan semangat gotong royong dan cita-cita para pendiri bangsa.
“Semoga kegiatan ini menjadi simbol bahwa kita bisa mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata, kepedulian dan kebersamaan,” ujarnya.
Awaluddin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut, khususnya Pemerintah Kota Parepare melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan, Rektor Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie, Pertamina, Pelindo, PWI Parepare, mahasiswa, serta tokoh masyarakat.. Merdeka!