Beranda » JUDI ONLINE TAK TERLIHAT, DAMPAKNYA NYATA

JUDI ONLINE TAK TERLIHAT, DAMPAKNYA NYATA

Bagikan

Dari Perceraian di Sidrap hingga Kejahatan di Parepare, Judol Menggerogoti Ekonomi dan Rumah Tangga

PAREPARE — Judi online atau judol semakin menjadi persoalan sosial yang sulit diabaikan di kawasan Ajatappareng. Aktivitasnya berlangsung diam-diam melalui telepon seluler, tetapi dampaknya mulai terlihat dalam berbagai persoalan, mulai dari keretakan rumah tangga, masalah ekonomi hingga tindak kriminal.

Di Sidrap, pihak Pengadilan Agama mengungkapkan bahwa judi online menjadi salah satu penyebab dalam sejumlah perkara perceraian. Persoalan ekonomi yang muncul akibat kebiasaan berjudi kemudian merembet menjadi konflik dalam rumah tangga.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa korban judi online tidak selalu hanya orang yang bermain. Pasangan dan anak juga ikut menanggung akibat ketika pendapatan keluarga tersedot untuk mengejar kemenangan yang belum tentu datang.

Persoalan serupa juga menjadi perhatian aparat kepolisian di Parepare.

Kasat Intelkam Polres Parepare, Iptu Burhanuddin, mengakui fenomena judi online cukup banyak terjadi di Parepare. Namun, polisi menghadapi kesulitan untuk mengendus dan mengungkap para pelakunya.

Menurutnya, salah satu kendala utama adalah aktivitas judi online dilakukan melalui handphone masing-masing sehingga tidak mudah terlihat seperti perjudian konvensional yang berlangsung di suatu lokasi.

“Banyak, tapi sulit mengendusnya karena dilakukan melalui handphone masing-masing,” demikian inti keterangan Burhanuddin.

Berbeda dengan perjudian konvensional yang membutuhkan tempat berkumpul, judi online dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Pemain cukup menggunakan telepon seluler serta akses internet.

Kondisi tersebut membuat aktivitas judol dapat berlangsung di ruang pribadi, bahkan tanpa diketahui anggota keluarga.

Dari Kalah Judol ke Tindak Kriminal

Dampak judi online di Ajatappareng juga mulai muncul dalam sejumlah kasus kriminal yang diungkap kepolisian.

Di Parepare, polisi pernah menangkap pelaku pencurian yang mengaku melakukan aksinya karena membutuhkan uang dan kecanduan judi online. Barang hasil kejahatan kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan bermain judol.

Kasus lain juga memperlihatkan seorang pria menjual sepeda motor milik temannya setelah membawanya pergi dengan alasan meminjam. Uang hasil penjualan motor tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup dan bermain judi online.

Di Sidrap, polisi juga pernah mengungkap kasus pencurian yang dilakukan karena pelaku membutuhkan uang untuk bermain judi online.

Sementara di Enrekang, polisi mengungkap kasus pembunuhan yang menurut penyidik berkaitan dengan desakan kebutuhan uang setelah pelaku mengalami kekalahan dalam judi online.

Rangkaian kasus tersebut tidak berarti seluruh kejahatan disebabkan judi online. Namun, sejumlah perkara memperlihatkan bagaimana kecanduan dan kerugian akibat judol dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal.

Perjudian yang Bekerja dalam Diam

Judi online memiliki karakter berbeda dengan perjudian konvensional. Tidak ada arena, tidak ada kerumunan dan tidak ada aktivitas yang mudah terlihat masyarakat.

Sebuah telepon seluler bisa menjadi “tempat perjudian” yang dibawa ke mana-mana.

Karena itulah pengakuan polisi mengenai kesulitan mendeteksi pelaku menjadi penting. Penindakan terhadap pemain tidak cukup hanya mengandalkan operasi di lapangan, tetapi juga membutuhkan kemampuan mendeteksi aliran transaksi, jaringan promosi, rekening penampung serta platform yang digunakan.

Di sisi lain, persoalan ini juga menyentuh sisi yang lebih mendasar: mengapa orang tetap bermain meski mengetahui risikonya?

Janji mendapatkan uang cepat, bonus, kemenangan besar dan berbagai bentuk promosi membuat judi online mudah dipasarkan melalui ruang digital.

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar penegakan hukum. Judol telah menjadi persoalan ekonomi, keluarga dan literasi digital masyarakat.

Jika uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga habis di meja taruhan virtual, maka kerugiannya tidak berhenti pada saldo rekening pemain.

Ia dapat berubah menjadi pertengkaran, utang, perceraian, pencurian bahkan kejahatan yang lebih berat.

Judi online memang berlangsung di layar handphone. Tetapi dampaknya bisa sampai ke dalam rumah, bahkan ke tengah masyarakat.(*)