Beranda » Gletser Runtuh Picu Banjir Bandang di Nepal

Gletser Runtuh Picu Banjir Bandang di Nepal

Bagikan

547 ORANG TEWAS, 1.535 HILANG, ANCAMAN BANJIR SUSULAN MENGINTAI

NEPAL — Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, setelah runtuhnya gletser memicu longsoran es, batu dan lumpur yang menghantam sistem sungai di kawasan Himalaya.

Hingga Jumat, 28 Agustus 2026, sedikitnya 547 orang dilaporkan tewas di Nepal, sementara 977 orang masih dinyatakan hilang. Di wilayah Tibet, China, lima orang dilaporkan tewas dan 558 lainnya masih hilang. Dengan demikian, jumlah korban meninggal di kedua wilayah telah melampaui 550 orang.

Bencana tersebut terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Runtuhnya bagian gletser di kawasan pegunungan memicu longsoran es dan batu dalam jumlah besar. Material itu kemudian masuk ke aliran sungai dan menghasilkan banjir bandang dengan daya rusak luar biasa.

Analisis Reuters menyebut bagian bawah sebuah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh sekitar 1.200 meter menuju lembah. Runtuhan tersebut kemudian berkembang menjadi longsoran es dan batu serta aliran material yang menerjang kawasan di sepanjang sungai.

AIR SUNGAI NAIK 9 METER DALAM 30 MENIT

Dahsyatnya banjir membuat permukaan air sungai dilaporkan naik hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.

Arus membawa lumpur, batu, es dan material longsoran yang menghantam permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik hingga kawasan perbatasan Nepal-Tibet.

Sejumlah wilayah yang menjadi jalur perjalanan menuju kawasan Mount Kailash dan Danau Mansarovar juga terdampak. Banyak warga negara asing yang berada di kawasan tersebut dilaporkan belum ditemukan.

ANCAMAN BANJIR KEDUA

Bencana belum sepenuhnya berakhir.

Longsoran yang terjadi di bagian hulu membentuk danau penghalang (barrier lake) akibat material longsor yang membendung aliran sungai.

Pada Jumat, danau tersebut mulai meluap sehingga meningkatkan risiko terjadinya banjir susulan. Kondisi itu bahkan membuat operasi pencarian dan penyelamatan sempat dihentikan karena tim penyelamat menghadapi ancaman kenaikan debit air secara tiba-tiba.

Otoritas China memperkirakan danau yang terbentuk dari material longsoran tersebut telah menampung jutaan meter kubik air. Tim teknis dikerahkan untuk memantau kondisi bendungan alami dan mencari cara mengendalikan aliran air.

RIBUAN ORANG MASIH DALAM PENCARIAN

Tim penyelamat Nepal terus melakukan pencarian terhadap korban yang tertimbun material lumpur dan reruntuhan.

Lebih dari 3.700 orang telah berhasil diselamatkan di Nepal, sementara ribuan personel keamanan dikerahkan untuk membantu evakuasi dan pencarian korban.

Besarnya jumlah warga asing yang hilang membuat tragedi ini menjadi perhatian internasional. Mereka berasal dari sejumlah negara dan sebagian berada di Nepal dalam perjalanan wisata, trekking maupun ziarah menuju kawasan Kailash Mansarovar.

BENCANA DI TENGAH PEMANASAN HIMALAYA

Para ilmuwan masih menyelidiki hubungan antara kejadian ini dan perubahan iklim. Namun, kawasan Himalaya diketahui mengalami perubahan cepat akibat meningkatnya suhu, yang dapat membuat gletser dan lereng pegunungan semakin tidak stabil.

Banjir Nepal 2026 kembali memperlihatkan bagaimana runtuhnya es dan batu di kawasan pegunungan dapat berubah menjadi bencana berantai: gletser runtuh, longsoran terjadi, sungai terbendung, kemudian air dan material longsoran menerjang wilayah di bagian hilir.

Pemerintah Nepal masih melanjutkan operasi penyelamatan, sementara masyarakat di wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan.