Beranda » YLP2EM dan InklusiBaKTI Perkuat Kapasitas Jurnalis Parepare dengan Perspektif GEDSI dan Iklim

YLP2EM dan InklusiBaKTI Perkuat Kapasitas Jurnalis Parepare dengan Perspektif GEDSI dan Iklim

Bagikan

PAREPARE, VOICESULSEL.COM — Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (YLP2EM) melalui program Inklusi-BaKTI menggelar kegiatan Penguatan Kapasitas untuk Forum Media dan Jurnalis, Selasa (8/10/2025), di Cafe Media Parepos, Jalan Bau Massepe, Kota Parepare.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran media dalam menghadirkan pemberitaan yang inklusif dan berperspektif keberlanjutan, khususnya dalam isu Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) serta perubahan iklim.

Acara berlangsung hangat dan interaktif, diikuti sejumlah jurnalis dari berbagai media cetak dan daring di Parepare. Hadir dalam kegiatan tersebut Koordinator Program Inklusi Parepare Abd. Samad Syam, Direktur YLP2EM Ibrahim Fattah, fasilitator kegiatan Eril, serta narasumber Direktur PARE POS Akbar Hamdan.

Direktur YLP2EM, Ibrahim Fattah, secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran media sebagai agen perubahan sosial yang mampu menyuarakan keberagaman dan keadilan.

“GEDSI adalah tentang inklusi, tentang memastikan semua suara terdengar. Media punya kekuatan untuk itu. Maka penting bagi jurnalis memahami bagaimana menyisipkan perspektif GEDSI dalam setiap narasi, termasuk isu lingkungan dan iklim,” ujar Ibrahim.

Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong para jurnalis untuk lebih peka terhadap isu-isu GEDSI dalam liputan perubahan iklim. Menurutnya, berita mengenai bencana alam akibat perubahan iklim sering kali hanya berfokus pada kronologi dan kerugian, sementara dampak terhadap kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia jarang diangkat.

Fasilitator kegiatan, Eril, dalam pemaparannya menjelaskan keterkaitan erat antara GEDSI dan perubahan iklim. Ia mencontohkan bagaimana efek rumah kaca menyebabkan pemanasan global yang berdampak tidak merata bagi masyarakat.

“Perubahan iklim bukan hanya soal suhu naik, tapi juga siapa yang paling terdampak. Di sinilah pentingnya media menghadirkan narasi yang tidak bias dan mewakili semua lapisan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur PARE POS Akbar Hamdan menekankan bahwa kelompok minoritas sering kali kurang mendapat perhatian dalam pemberitaan karena jumlah mereka yang sedikit. Ia berharap pelatihan ini mampu mendorong jurnalis lebih peka dan berpihak pada kelompok rentan.

“Peran media dan jurnalis sangat penting sebagai advokasi dalam isu-isu berperspektif GEDSI,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi aktif antara peserta dan narasumber. Para jurnalis diajak untuk menerapkan perspektif GEDSI dalam setiap tahapan produksi berita — mulai dari pemilihan narasumber, sudut pandang, hingga penggunaan bahasa yang inklusif.

Peserta menyambut positif inisiatif ini. Mereka mengakui bahwa isu GEDSI dan perubahan iklim sering kali dipandang terpisah, padahal keduanya saling berkaitan dan perlu diangkat secara utuh dalam pemberitaan.

Melalui kegiatan ini, YLP2EM bersama program Inklusi-BaKTI berharap lahir lebih banyak konten media yang inklusif dan mampu mendorong perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan.