POLEWALI MANDAR — Warga Dusun Pamu’tu, Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terpaksa melakukan swadaya untuk membangun akses jalan yang terputus sepanjang kurang lebih 150 meter.
Jalan tersebut tidak tersentuh pembangunan karena berada dalam kawasan hutan lindung. Kondisinya masih berupa tanah merah dengan tingkat kerusakan cukup parah. Selain jalur yang menanjak, terdapat dua tikungan tajam berbentuk S yang membuat akses semakin berbahaya, terutama saat musim hujan karena jalan menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan.
Dengan keterbatasan yang ada, warga setempat bergotong royong memperbaiki jalan menggunakan dana swadaya, serta bantuan dari sejumlah pihak. Pengerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan material yang tersedia.
Kepala Dusun Pamu’tu, Hamri, mengatakan bahwa pengecoran jalan baru bisa dilakukan sebagian dengan lebar sekitar satu meter, yang diperuntukkan bagi kendaraan roda dua.
“Pengecoran jalan ini hanya satu meter dulu, yang penting motor sudah bisa lewat agar warga tidak kesulitan,” ujarnya.
Namun, pembangunan tersebut saat ini terpaksa dihentikan sementara karena kekurangan material seperti semen dan kerikil. Warga pun berharap adanya bantuan dari berbagai pihak agar pengerjaan jalan dapat dilanjutkan hingga tuntas.
Salah seorang warga, Udi, mengungkapkan harapannya agar ada donatur yang bersedia membantu.
“Kalau nanti ada material lagi, kita lanjutkan. Semoga ada yang tergerak membantu, sekecil apa pun itu sangat berarti bagi kami,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Batetangnga, Sumaila Damang, menjelaskan bahwa sebagian proyek pengecoran jalan sebelumnya merupakan program dari Kementerian PUPR. Namun, terdapat sekitar 100 meter lebih jalan yang tidak dapat dikerjakan karena masuk dalam kawasan hutan lindung.
“Memang ada bagian yang tidak dikerja karena status kawasan,” jelasnya.
Pemerintah desa, lanjut Sumaila, telah beberapa kali mengajukan permohonan kepada pemerintah kabupaten dan pihak terkait agar status lahan tersebut dapat dipinjam pakai atau dibebaskan, sehingga pembangunan jalan bisa dilanjutkan secara resmi.
Namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Di sisi lain, penggunaan dana desa untuk pembangunan jalan juga mengalami kendala akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Kami berharap ada solusi agar jalan ini bisa dibangun secara menyeluruh, baik melalui perubahan status kawasan maupun dukungan dari pihak lain,” harapnya.
Akses jalan tersebut menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat Dusun Pamu’tu untuk menunjang aktivitas sehari-hari, termasuk mobilitas ekonomi dan sosial warga.
Tanpa dukungan lebih lanjut, pembangunan jalan dikhawatirkan akan berjalan lambat dan belum dapat dinikmati secara maksimal oleh masyarakat.(*)