PAREPARE, VOICESULSEL —
Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, polemik terkait layanan penukaran uang baru mencuat di tengah masyarakat.
Sejumlah warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan penukaran uang pecahan baru baik di bank maupun yang disediakan oleh Bank Indonesia (BI), bahkan muncul dugaan bahwa layanan tersebut hanya mudah diakses oleh kalangan tertentu.
Keluhan tersebut ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Banyak warga mengaku gagal mendapatkan kuota penukaran uang, baik dari bank atau melalui aplikasi resmi BI.
Sebagian warga bahkan menduga adanya praktik “orang dalam” atau kelompok tertentu yang lebih mudah memperoleh jatah penukaran uang baru menjelang Lebaran. Mengingat jasa tukar uang lebaran ditaksir dibanderol dengan harga 20 persen.
“Sulit, tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya, ini seolah-olah sudah ada yang lebih dulu mendapatkan jatah, mungkin untuk dijual kembali,” ujar Paulus warga Parepare.
Demikian halnya juga terjadi di Sulawesi Barat. Bahkan santer diberitakan kalau masyarakat menuntut pencopotan kepala Bank Indonesia provinsi Sulbar gara-gara penukaran uang lebaran.
Program Penukaran Resmi BI
Sebagai informasi, Bank Indonesia setiap tahun membuka layanan penukaran uang baru melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI). Pada tahun 2026.
” Di Kota Parepare Sulawesi Selatan salah satunya menjadi pusat di Ajatappareng untuk penukaran uang lebaran. Maka dengan sendirinya, perbankan lainnya tidak lagi melayani penukaran kecuali membuka rekening,” tambah Paulus
BI menyiapkan uang tunai layak edar sebesar Rp185,6 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp8,6 triliun dialokasikan khusus untuk layanan penukaran uang langsung kepada masyarakat, dengan batas maksimal penukaran sekitar Rp5,3 juta per orang.
Penukaran uang dilakukan melalui aplikasi PINTAR BI, di mana masyarakat harus memesan jadwal terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi kas keliling atau titik layanan yang telah ditentukan.
Kuota Terbatas dan Animo Tinggi
Tingginya permintaan masyarakat terhadap uang pecahan baru untuk tradisi berbagi THR saat Lebaran menjadi salah satu penyebab kuota penukaran cepat habis.
BI bahkan sempat memperpanjang jadwal pemesanan serta menambah kuota layanan setelah melihat tingginya animo masyarakat.
Meski demikian, sejumlah warga tetap menilai sistem pemesanan online belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses kuota yang terbatas.
Perlu Transparansi
Pengamat ekonomi menilai polemik ini perlu disikapi dengan peningkatan transparansi dalam sistem distribusi layanan penukaran uang.
Jika tidak, dugaan adanya kelompok tertentu yang lebih mudah memperoleh jatah penukaran uang baru berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap mekanisme layanan yang disediakan.
Masyarakat berharap proses distribusi uang baru menjelang Lebaran dapat dilakukan secara lebih terbuka, adil, dan merata sehingga tradisi berbagi saat Hari Raya tetap dapat dinikmati oleh semua kalangan.(*)