PAREPARE — Anggota Komisi III DPRD Kota Parepare, Andi Muhammad Fudail memberi perhatian serius terhadap proyek pemerintah kota yang terancam molor dari batas waktu penyelesaian. Setidaknya ada tiga proyek yang disebut terancam tidak tepat waktu, yaitu, Pembangunan Masjid Terapung di Cappa Galung, Proyek Anjungan Cempae di Soreang dan Proyek Alun-alun Lapangan Andi Makkasau.
Batas pengerjaan proyek tersebut hanya sampai 31 Desember 2021 berdasarkan kontrak yang telah ditandatangi para
pelaksana selaku pemenang tender. Sementara sisa sebulan. Proyek yang tidak bisa diselesaikan tepat waktu akan dikenai denda.
Fudai menilai, proyek menyeberang di tahun anggaran berikutnya disebabkan berbagai faktor. Salah satu yang menjadi penekananya karena keterlambatan proses
tender. “Tiap tahun, ada saja pengerjaan proyek yang menyeberang di tahun anggaran berikutnya, atau tidak selesai tepat waktu,” katanya.
Olehnya itu, dia berharap kondisi ini harus menjadi bahan renungan dan evaluasi di tahun-tahun berikutnya.
“Seharusnya sudah ada evaluasi agar tidak berulang di tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.
Pembangunan masjid terapung menelan anggaran Rp 28 miliar pada tender
pertama, dan Rp 14 miliar tender kedua. Sementara Anjungan Cempae menelan anggaran Rp 19 miliar, dan pembenahan alun-alun Lapangan Andi Makkasau sebesar Rp 2 miliar. Pantauan ParePos, ketiga proyek yang dimaksud, progresnya terus
berjalan tiap harinya menjelang target kesepakatan kontrak per 31 Desember 2021.
Ditemui di lokasi pembangunan masjid terapung, Plt Kepala Dinas PUPR Parepare, Samsuddin Taha mengatakan, optimis ketiga proyek tersebut masih tetap bisa selesai di akhir tahun.
“Meskipun ada tambahan anggaran untuk proyek masjid terapung sebesar Rp14 miliar, kita tetap tetap optimis selesai akhir tahun 2021. Termasuk proyek lainnya,” kata Samsuddin.
Di tempat yang sama, PPK Dinas PUPR, H Suhandi lebih jauh menjelaskan, ketiga proyek yang kontraknya berakhir Desember 2021, secara progres cukup menggembirakan. Pasalnya, ketiga proyek tersebut progresnya sudah di atas angka 60 persen pembangunannya.
“Kami yakin selesai Desember untuk ketiga pekerjaan ini. Proyek masjid terapung sudah 82 persen dari anggaran yang Rp 28 miliar. Anjungan Cempae 70 persen, dan alun-alun kota, Lapangan Andi Makkasau sudah mencapai 63 persen,” jelasnya.
Suhandi mengaku dalam perjalanan pengerjaannya, ada hal tertentu yang menyebabkan proses pembangunan proyek menyeberang tahun namun konsekuensi dan tidak bisa dihentikan pengerjaannya.
“Ada waktu disepakati antara pemilik proyek dalam hal ini Dinas PUPR dan rekanan atau kontraktor. Tapi kalau lewat dari masa itu, tentu ada konsekuensi dan denda diberikan kepada kontraktor. Tapi anggaran tetap sesuai, dan tidak bertambah,” tegasnya.
Rekanan Optimis
Kontraktor PT Lumpue Indah, Redi juga optimis pengerjaan masjid terapung bisa selesai tahun ini. Kata dia, proyek tersebut masuk tahap penyelesaian di lantai satu. “Akhir bulan ini kita akan kerjakan lantai duanya. Insya Allah kita selesaikan,” ujarnya.
Senada juga kontaktor dari PT Apro Megatama, Akbar yang ditemui di lokasi. Akbar mengatakan, sejauh ini progres proyek Anjungan Cempae, struktur-struktur atas sudah terlihat dan lantainya sementara dalam pengerjaan. Ia optimis proyek Anjungan Cempae dapat
rampung diakhir tahun 2021 yang diakuinya sudah berjalan lebih dari
70 persen.
“Meskipun kadang ada kendala dari cuaca. Kalau cuaca mendukung dan tidak ada kendala dari material. Insya Allah optimis bisa selesai akhir tahun. Karena
kendalanya itu, cuaca juga material. Karena kita pesan dari luar Sulawesi,” tandasnya.(*)