Beranda » Debu Batu Bara PLTU Bawasalo Berdampak ke Warga, 151 Rumah Dapat Bantuan

Debu Batu Bara PLTU Bawasalo Berdampak ke Warga, 151 Rumah Dapat Bantuan

Bagikan

BARRU — Keluhan warga terkait debu batu bara dari aktivitas PLTU Bawasalo Desa Lampoko Kabupaten Barru Sulawesi Selatan kembali menjadi perhatian. Debu disebut tidak hanya mengotori lingkungan sekitar pembangkit, tetapi juga masuk ke dalam rumah dan menempel pada berbagai perabot milik warga.

Warga Bawasalo, I Saoda, mengaku merasakan langsung dampak debu yang masuk ke permukiman.

Menurutnya, karakter debu batu bara berbeda dengan debu biasa. Warnanya lebih kehitaman dan terlihat menempel di berbagai bagian rumah.

“Beda, kalau debu batubara warnanya lebih kehitaman dan itu ada di setiap lantai, dinding hingga ke perabotan,” jelas I Saoda.

Keluhan tersebut menjadi salah satu persoalan yang dibahas antara warga dan manajemen PLTU Bawasalo.

Asisten Manager PLTU Bawasalo, Budi Setiawan, mengatakan pihaknya telah bertemu langsung dengan masyarakat untuk mendengar berbagai keluhan dan permintaan warga.

Salah satunya adalah permintaan relokasi. Selain itu, warga juga meminta bantuan kebutuhan pokok, alat kebersihan, masker serta air bersih.

Budi mengatakan jumlah warga yang masuk dalam pendataan penerima bantuan awalnya 138 rumah. Data tersebut kemudian berkembang menjadi 144 hingga akhirnya mencapai 151 rumah.

Manajemen PLTU Bawasalo memberikan bantuan kebutuhan pokok senilai sekitar Rp300 ribu per rumah setiap bulan selama tiga bulan.

“Rp300 ribu per bulan sama tiga bulan. Sudah berjalan, ini bulan yang pertama. Di bulan September sudah kita berikan bantuan untuk 151 rumah,” kata Budi, Senin (28/9/2026).

Bantuan tahap awal berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, teh, gula dan kopi. Untuk periode berikutnya, pihak PLTU membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan yang dianggap lebih prioritas.

PLTU Akui Kondisi Kering dan Angin Kencang

Mengenai penyebaran debu, Budi mengatakan kondisi kemarau dan angin kencang menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi penyebaran debu.

Namun, ia menegaskan kondisi tersebut bukan alasan bagi manajemen untuk mengabaikan keluhan warga.

“Bukan bagian pembenaran kami karena angin. Kami tetap melakukan beberapa mitigasi,” ujarnya.

PLTU Bawasalo, kata Budi, telah menutup sejumlah area penyimpanan abu sisa pembakaran batu bara atau ash yard menggunakan terpal. Penyiraman juga dilakukan secara rutin untuk mengurangi debu yang beterbangan.

“Sudah kami tutup terpal, terus kemudian kami lakukan penyiraman rutin. Tapi karena kondisinya memang kering dan anginnya kencang, itu di luar kendali kami,” jelasnya.

Budi mengatakan arah angin juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Saat ini, arah angin disebut bergerak dari timur ke barat dan warga yang berada di sisi barat PLTU sangat merasakan.

Warga Bisa Laporkan Keluhan Kesehatan

Kekhawatiran warga tidak hanya berkaitan dengan kondisi rumah dan lingkungan, tetapi juga potensi dampak kesehatan akibat paparan debu.

Budi mengatakan pemeriksaan kesehatan masyarakat telah dilakukan secara rutin. Ia menyebut pemeriksaan dilakukan secara berkala.

Jika ada warga yang mengalami keluhan kesehatan dan menduga berkaitan dengan debu, pihak PLTU mempersilakan warga melapor.

“Kalau memang ada keluhan terkait kesehatan seperti itu, silakan nanti kami dampingi untuk pemeriksaan kesehatan lebih lanjut,” katanya.

Siapkan Penghalang Debu Sepanjang 120 Meter

Sebagai langkah jangka panjang, PLTU Bawasalo juga merencanakan pemasangan penghalang untuk meminimalisasi penyebaran debu ke permukiman.

Budi menyebut pemasangan paranet atau penghalang sejenis akan dilakukan secara bertahap. Tambahan penghalang yang direncanakan sekitar 120 meter dengan tinggi 13 meter masuk dalam perencanaannya.

“Secara bertahap kurang lebih 120 meter lagi paranet kita akan tambahkan,” ujarnya.

Manajemen juga akan melakukan penataan penyimpanan batu bara agar tumpukannya tidak terlalu tinggi.

PLTU Bawasalo saat ini memiliki tiga unit pembangkit, yakni Unit 1 dan Unit 2 masing-masing berkapasitas 50 MW serta Unit 3 berkapasitas 100 MW.

Menurut Budi, kebutuhan cadangan batu bara juga harus dijaga untuk menjamin keberlangsungan operasi pembangkit.

Di sisi lain, manajemen menyebut kondisi kemarau turut memberikan tekanan terhadap sistem kelistrikan karena produksi sejumlah pembangkit tenaga air mengalami penurunan.

Meski demikian, Budi kembali menegaskan kondisi tersebut tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan keluhan warga.

“Balik lagi, itu bukan bagian dari pembenaran. Akhirnya kami lakukan apa yang sekiranya bisa kami lakukan,” katanya.

Keluhan warga dan langkah mitigasi PLTU Bawasalo kini menjadi perhatian bersama, terutama karena persoalan debu menyentuh langsung lingkungan tempat tinggal masyarakat. Evaluasi terhadap bantuan, pengendalian debu, serta pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan dampak yang dirasakan warga.