PAREPARE, VOICESULSEL — TK Katolik Parepare ikut ambil bagian dalam pawai budaya dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kota Parepare di Lapangan Andi Makkasau, Sabtu malam, 29 Agustus 2026.
Sebanyak 34 peserta didik TK Katolik Parepare mengikuti pawai tersebut bersama keluarga masing-masing. Selain orang tua, sejumlah peserta didik juga didampingi kakek dan nenek. Para guru turut mendampingi sekaligus terlibat dalam persiapan dan latihan.
Kepala TK Katolik Parepare, Antonia Rante Pemba, S.Pd, mengatakan keikutsertaan anak-anak dalam pawai budaya menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan nilai perjuangan sejak usia dini.
“Tujuan kami membuat lomba itu supaya anak-anak mempunyai nilai juang. Ketika mereka sudah memahami tentang nilai juang, maka akan timbul rasa menghargai atas perjuangan para pendahulu kita dalam memperjuangkan kemerdekaan,” kata Antonia saat ditemui Sabtu malam.
Dalam pawai budaya tersebut, peserta didik TK Katolik Parepare mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Di antaranya pakaian adat Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, termasuk pakaian adat Toraja, serta pakaian adat Batak.
Antonia menuturkan, persiapan pawai dilakukan secara gotong royong. Tidak hanya guru, para orang tua juga turut terlibat dalam melatih dan mempersiapkan anak-anak sebelum mengikuti pawai.
“Pelatih-pelatih kami gotong royong. Jadi terjun semua, termasuk juga orang tua dalam melatih,” ujarnya.
Menurut Antonia, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan keberagaman budaya kepada anak-anak, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter dan rasa menghargai perjuangan para pendahulu bangsa.
Ia berharap pengalaman mengikuti pawai budaya dapat menjadi fondasi bagi peserta didik untuk memahami semangat perjuangan sesuai dengan usia mereka.
“Harapan kami, dengan mengikuti kegiatan ini kita membangun dari fondasi semangat juang peserta didik dan juga sikap menghargai. Menghargai apa yang pendahulu kita telah kerjakan dan bagaimana kita melanjutkan perjuangan itu,” katanya.
Antonia menyadari pemahaman anak usia dini mengenai perjuangan belum dapat disamakan dengan orang dewasa. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah meletakkan dasar nilai tersebut sejak dini.
“Paling tidak kita sudah meletakkan dasar ini, dasar dari perjuangan itu, bagaimana menghargai dan bagaimana kita melanjutkan,” pungkasnya.
Reporter: Fatur Sakke