SIDRAP – Majelis Syuhada Kota Parepare kembali menggelar safari shalat subuh berjemaah sebagai kunjungan daerah perdana usai Idul Fitri 1447 H. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Raya Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Jumat (3/4/2026), dengan diikuti sekitar 500 jemaah yang datang menggunakan kurang lebih 80 kendaraan dari Parepare.
Rombongan jemaah yang didominasi pakaian serba putih itu memadati masjid, menciptakan suasana khusyuk sekaligus semarak dalam pelaksanaan ibadah subuh berjemaah. Kehadiran ratusan jemaah dari berbagai latar belakang profesi ini juga menjadi ajang silaturahmi lintas daerah.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Majelis Syuro Majelis Syuhada H. Pangerang Rahim, AKBP (Purn) H. Muhabar, Prof. Rahmawati, Drs. H. Alimuddin Ngaru, H. Amir Lolo, H. Nasarong, serta H. Nurdin Amin. Selain itu, tampak pula sejumlah pejabat aktif Pemerintah Kota Parepare seperti Kepala Dinas Kominfo, Kepala Dinas PUPR Budi Rusdi, Kepala Dinas Perpustakaan H. Ahmad Masdar, serta Sekretaris Inspektorat Agussalim.
Turut hadir pula para pengurus masjid dan majelis taklim se-Kota Parepare, serta jemaah dari berbagai daerah seperti Barru, Pinrang, dan Sidrap.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Rappang, H. Kusnawi Muhammad, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas kunjungan Majelis Syuhada Parepare.
“Selamat datang kepada Majelis Syuhada Parepare di masjid kebanggaan masyarakat Rappang. Ini menjadi kehormatan bagi kami. Kami juga memohon maaf jika dalam penyambutan terdapat kekurangan,” ujarnya.
Ceramah subuh disampaikan oleh Ustadz H. Lukman Hasyim yang menggantikan Ustadz Syahruddin Tayyeb. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menjaga semangat ibadah, khususnya shalat subuh berjemaah, sebagai jalan menuju kebaikan dan pahala.
Ia mengajak jemaah untuk tidak memandang ibadah sunnah sebagai sesuatu yang boleh ditinggalkan, melainkan sebagai peluang meraih pahala yang jika ditinggalkan akan merugikan.
“Ubah pola pikir, bukan sekadar ‘kalau dikerjakan dapat pahala, kalau tidak tidak apa-apa’, tetapi jadikan ‘kalau tidak dikerjakan maka kita merugi’. Dengan begitu, kita akan lebih termotivasi dalam beribadah,” pesannya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahaya pola hidup serba instan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam beribadah.
Mengutip istilah Bugis, ia menyampaikan, “Maseke mancaji abala” yang berarti segala sesuatu yang serba instan bisa membawa dampak buruk.
Kegiatan safari subuh ini ditutup dengan sambutan dari Muassis Majelis Syuhada Parepare, H. Baktiar Syarifuddin, yang menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari pihak pengurus Masjid Raya Rappang.
Safari subuh ini menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah antarjemaah serta memperkuat semangat ibadah pasca Idul Fitri di wilayah Ajatappareng.(*)