Dari Limbah Jadi Lezat: Tulang Ikan Bandeng Disulap Jadi Abon Bernilai Tinggi

Bagikan

PAREPARE, VOICESULSEL — Inovasi tak pernah berhenti datang dari tangan kreatif pelaku UMKM binaan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.

Salah satunya dari Kelompok UMKM Syahban yang dipimpin oleh Tri Harianti di Kota Parepare.

Dari rumah produksinya di Jalan Puang Halide Ladoma, Bacukiki, Tri bersama para anggotanya berhasil mengubah ikan bandeng menjadi berbagai olahan bernilai jual tinggi.

mulai dari bandeng cabut duri, bandeng presto, hingga yang paling unik, abon dari tulang ikan bandeng.

Siapa sangka, limbah tulang ikan yang biasanya dibuang justru diolah menjadi makanan bergizi tinggi dan kaya kalsium?

“Awalnya kami hanya fokus pada olahan bandeng cabut duri dan presto.

Tapi karena sayang melihat tulangnya terbuang, kami coba kembangkan jadi abon dan tepung kalsium.

Ternyata hasilnya enak dan disukai pembeli,” tutur Tri saat ditemui, Minggu (26/10/2025).

Produk abon tulang bandeng ini memiliki cita rasa gurih yang tak kalah dengan abon daging tuna.

Selain itu, kandungan kalsiumnya sangat bermanfaat bagi anak-anak dan lansia.

Hebatnya lagi, semua produk olahan kelompok ini dibuat tanpa bahan pengawet.

Dari segi harga, produk-produk UMKM Syahban juga sangat terjangkau.

Bandeng cabut duri (3 ekor) dijual Rp 25.000

Bandeng presto (2 ekor) Rp 30.000

Abon tulang bandeng kaya kalsium Rp 25.000

Usaha ini telah berkembang sejak tahun 2023 berkat pendampingan dari Pertamina TBBM Parepare.

Pertamina membantu dari berbagai aspek, mulai dari promosi, sertifikasi halal, desain kemasan, hingga pemasaran di berbagai event dan pasar lokal.

“Pertamina sangat mendukung. Kami dibantu untuk mengikuti pameran dan bazar, termasuk promosi online agar bisa menjangkau pasar luar daerah,” jelas Tri dengan penuh semangat.

Kini, produk-produk UMKM Syahban tak hanya dipasarkan di Parepare, tetapi juga mulai menembus pasar lintas daerah, baik melalui penjualan offline maupun online lewat berbagai platform media sosial.

Inovasi Tri Harianti membuktikan bahwa dengan kreativitas dan pendampingan yang tepat, limbah bisa berubah menjadi peluang emas.

Dari tulang ikan yang sering terbuang, kini lahir produk bergizi tinggi yang mendatangkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan