PAREPARE — Kota Parepare kembali menjadi sorotan usai kabar penangkapan narkoba jenis sabu sebanyak 30 kilogram beredar luas di kalangan jurnalis dan masyarakat. Penangkapan ini dikabarkan terjadi di Kawasan Pelabuhan Nusantara (KPN) Parepare, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi titik masuk peredaran barang haram tersebut.
Meski belum ada rilis resmi dari pihak Polres Parepare, sejumlah sumber menyebut pengungkapan ini merupakan hasil dari serangkaian operasi penegakan hukum yang dilakukan dibeberapa wilayah. Jumlah pasti barang bukti masih simpang-siur,karena belum adanya keterangan resmi polisi. Namun seorang anggota kepolisian yang diwawancarai media ini menyebut, Masih menunggu pengembangan.
Apapun angka pastinya, jika benar jumlah ini tergolong besar dengan rekor tertinggi dan kembali memperkuat dugaan bahwa Pelabuhan Nusantara Parepare menjadi salah satu jalur strategis penyelundupan narkoba di wilayah timur Indonesia.
Ini bukan kali pertama aparat menggagalkan upaya penyelundupan sabu dalam jumlah besar di Parepare. Berdasarkan catatan dari berbagai sumber:
Mei 2023: Polsek KPN menyita 20 kg sabu dari penumpang kapal Bukit Siguntang.
Juli 2022: Polres mengamankan 11 kg sabu dari barang bawaan penumpang.
Oktober 2018: Polisi menyita 7 kg sabu di pelabuhan.
Agustus 2016: Penggagalan peredaran sabu seberat 8 kg juga tercatat dilakukan Polres Parepare.
Dengan jumlah total puluhan kilogram dalam kurun sembilan tahun terakhir, Parepare menjadi “zona merah” dalam peredaran narkotika, khususnya sabu.
Masyarakat kini menanti langkah tegas dari Polres Parepare untuk segera membuka tabir kasus ini ke publik. Banyak pihak berharap pengungkapan ini tak hanya berhenti pada kurir atau pelaku lapangan, tetapi dapat membongkar jaringan besar di balik peredaran sabu yang masuk melalui laut.
Jika benar 30 kg sabu berhasil diamankan, maka kasus ini bisa menjadi salah satu pengungkapan terbesar sepanjang sejarah pemberantasan narkoba di Kota Parepare.
Dengan berbagai kasus besar yang telah terjadi, diperlukan strategi pengawasan pelabuhan yang lebih ketat, sinergi lintas aparat, dan kesadaran masyarakat untuk menjadikan Parepare bukan lagi tempat favorit masuknya narkoba, tapi benteng pertahanan pemberantasannya.