Beranda ยป Oplah Rawa di Pitu Riawa Kembali Tuai Kritik, Petani Lasiwala dan Padalloang Ancam Tolak Hasil Pengerukan

Oplah Rawa di Pitu Riawa Kembali Tuai Kritik, Petani Lasiwala dan Padalloang Ancam Tolak Hasil Pengerukan

Bagikan

SIDRAP, VOICESULSEL โ€“ Pelaksanaan program Optimalisasi Lahan (Oplah) Rawa di Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), kembali menuai kritik dari kalangan petani. Kali ini, keluhan datang dari anggota kelompok tani di Desa Lasiwala dan Padalloang yang menilai hasil pekerjaan pengerukan saluran irigasi tidak sesuai harapan.

Persoalan serupa sebelumnya mencuat di wilayah Sumpang Mango, Aju Bissue hingga Otting. Kini, keluhan kembali muncul setelah sejumlah anggota kelompok tani melakukan pemantauan langsung terhadap pekerjaan pengerukan saluran tersier maupun sekunder di wilayah mereka.

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, petani menilai pekerjaan pengerukan menyisakan persoalan baru. Tidak hanya sampah dan material galian yang berserakan, tetapi juga bekas pengerukan yang justru berpotensi menghambat fungsi saluran irigasi.

Salah seorang anggota kelompok tani yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, material hasil pengerukan hanya dihamparkan di atas pematang tanpa proses pemadatan.

Kondisi itu dikhawatirkan membuat material galian kembali turun ke dalam saluran, sehingga berpotensi mengurangi kapasitas saluran dan menghambat aliran air.

“Bekas galian ini justru menjadi pekerjaan tambahan bagi petani. Seharusnya setelah pengerukan, pekerjaan dirapikan, bukan malah meninggalkan persoalan baru,” keluhnya.

Petani juga menyoroti kedalaman pengerukan yang dinilai tidak memperhatikan kemiringan dan arah aliran air. Mereka khawatir terdapat bagian saluran yang lebih dalam di hulu dibandingkan hilir, sehingga air berpotensi mengendap dan tidak mengalir sebagaimana mestinya.

Atas kondisi tersebut, salah seorang anggota kelompok tani bahkan mengancam akan mengajak anggota kelompoknya menolak hasil pekerjaan pengerukan apabila tidak dilakukan perbaikan.

Di Desa Lasiwala, persoalan lain turut menjadi sorotan. Anggota kelompok tani mengaku, saat survei awal, pekerjaan yang disampaikan kepada mereka adalah rehabilitasi tanggul. Namun, pelaksanaan di lapangan justru berupa pengerukan saluran.

Perbedaan antara informasi awal dan realisasi pekerjaan tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan petani. Mereka menilai hasil pekerjaan yang ada belum menjawab kebutuhan rehabilitasi sebagaimana yang sebelumnya disampaikan.

Sementara di Desa Padalloang, pekerjaan pengerukan saluran tersier dan sekunder juga dikeluhkan karena material bekas galian banyak yang kembali turun ke dalam parit. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu kelancaran aliran air ketika saluran mulai difungsikan.

Selain kualitas pekerjaan, petani turut mempertanyakan transparansi pelaksanaan program. Pasalnya, pekerjaan tersebut disebut tidak dilengkapi papan informasi kegiatan yang semestinya menjadi sarana keterbukaan kepada masyarakat mengenai pelaksana, volume pekerjaan, sumber anggaran, dan nilai kontrak atau pembiayaan.

Petani berharap Dinas terkait, BPLIP, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program Oplah Rawa tidak menutup mata terhadap kondisi di lapangan.

Mereka meminta agar hasil pemantauan dan keluhan masyarakat terdampak menjadi bahan evaluasi sebelum program dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Menurut petani, minimnya pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hasil pengerukan tidak maksimal dan terkesan hanya memenuhi formalitas pekerjaan.

Padahal, program Optimalisasi Lahan merupakan program pemerintah yang menggunakan anggaran APBN dan bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian serta memberikan manfaat nyata bagi petani.

Karena itu, mereka berharap pekerjaan Oplah Rawa benar-benar dilaksanakan sesuai perencanaan, spesifikasi teknis, dan kebutuhan masyarakat penerima manfaat.

“Harapan kami sederhana, program ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani. Jangan sampai anggaran negara sudah dikeluarkan, tetapi hasil pekerjaannya justru menyisakan masalah bagi masyarakat,” harapnya.

Petani juga meminta pihak berwenang turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap hasil pengerukan di Desa Las Riwala dan Padalloang, termasuk memastikan apakah pekerjaan tersebut telah sesuai dengan spesifikasi dan standar teknis yang ditetapkan.