PAREPARE — Wakil Wali Kota Parepare, Hermanto, melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau langsung proyek revitalisasi bangunan di UPTD SD Negeri 1 Parepare, Jumat 9 Oktober 2026. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pengerjaan fisik berjalan optimal tanpa mengabaikan kenyamanan dan keselamatan para siswa.
Kepala UPTD SDN 1 Parepare, Ikawati Iskandar, menjelaskan bahwa proyek revitalisasi ini merupakan solusi atas kondisi sejumlah ruang sekolah yang sebelumnya kerap mengalami kebocoran saat hujan deras turun. Kondisi bangunan yang tergenang air tersebut dinilai sangat mengganggu keamanan dan proses belajar mengajar anak-anak.
“Sebelum direvitalisasi, kalau hujan sedikit saja airnya sudah merembes ke mana-mana dan mengganggu kenyamanan dan efektivitas belajar anak-anak. Karena itu, kami laporkan ke dinas dan instansi terkait agar dilakukan perbaikan,” ujar Ikawati kepada wartawan, Senin (12/10/2026).
Selama proses pembongkaran awal dan pengerjaan fisik berlangsung, pihak sekolah sempat mengalihkan proses belajar mengajar secara jarak jauh (daring) selama lima hari guna menjaga keselamatan murid. Namun saat ini, seluruh siswa telah kembali mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.
Dalam kunjungan tersebut,
Wakil Wali Kota kata Ikawati memberikan sejumlah catatan penting kepada pekerja proyek. Salah satu poin utamanya adalah melarang pekerja menggunakan fasilitas sekolah seperti bangku, meja, maupun sarana inventaris sekolah untuk mendukung pekerjaan konstruksi.
“Catatan dari Pak Wakil Wali Kota, seluruh pengerjaan harus diperbaiki dengan baik di tempat. Beliau juga menegaskan agar para tukang atau pelaksana tidak memanfaatkan fasilitas sekolah seperti bangku dan meja untuk kegiatan pencetakan maupun keperluan konstruksi lainnya,” ungkap Ikawati.
Proyek revitalisasi di SDN 1 Parepare ini mencakup pengerjaan bertahap pada sejumlah bagian bangunan, di antaranya ruang kelas, fasilitas toilet di lantai dua, perpustakaan, ruang guru, hingga kantor sekolah.
Dengan perbaikan fasilitas tersebut, diharapkan mobilitas murid saat beraktivitas—seperti saat mengambil wudu atau menggunakan toilet—menjadi lebih tertata dan aman.
“Target beliau adalah bagaimana anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Kalau fasilitas di atas dan di bawah sudah dibenahi, anak-anak tidak perlu lagi mondar-mandir dan proses belajar mengajar bisa berjalan jauh lebih efektif,” pungkasnya.(*)