Oleh; IBRAHIM MANISI
PENGALAMAN terakhir saya ikut HPN 2022 di Kendari Sultra. Rabu malam, kami bertiga; Marno Pawessai, Jamal Putra Pare Perjaka dan saya sendiri – Ibrahim Manisi bersepakat keliling kota Kendari.
Ya, tentu saja untuk nenyaksikan hiruk pikuk kehidupan malam di provinsi Anoa itu. Soal grab, Jamal Perjaka ahlinya. “Tunggu 5 menit”, kata kawan kita yang masih jomblo ini.
Tepat Pukul 21.40, Hotel Qubra sepi. Teman lain sejak tadi melancong. Kami pun baru meluncur ke arah selatan mutar ke barat lalu menuju kota Kendari lama. Maaf, saya tidak tahu nama jalan. Dari kendari lama mampir di taman pantai Tambak Labuh. Pemandangannya indah dihiasi ribuan lampu warna warni.
“Wah ini mengingatkan saya taman Pangker (Pantai Keringnya) Pangkajene Sidrap”, ujar Marno. “Ayo mampir dulu makan bakso pir”, seru Sang Perjaka.
“Minta baksonya empat ibu”, teriak Jamal kepada penjual bakso yang sudah berkemas tutup. “Sayang nih bapak-bapak baru sampai. Suasana sudah sepi. Kalau malam Minggu, jam segini masih ramai”, ujar si penjual bakso. Saat itu, memang sudah pukul 24.15.
Kami berempat pun duduk lesehan di atas rumput beralaskan terpal. Di tengahnya sebuah meja tanpa tenda. Sambil minum kopi, cerita tentang indahnya kota Kendari di malam hari. Nara sumbernya, ya sang sopir grab.
Tak terasa, satu jam lebih ngobrol sambil nikmati bakso Kendari. Badan saya pun mulai panas dingin alias demam disertai batuk. sekujur tubuhku terasa capek, persendian terasa ngilu. Beruntung pak sopir mau pinjamkan topinya. Lupa pakai topi malam itu. Padahal saya alergi angin. Makanya di warkop-warkop saya hindar arah kipas angin. Tapi saya tahan AC.
Satu jam sebelum naik pesawat Lion Air, saya sudah minum parasetamol, Neorodex dan Comvit C. Saya pun sempat tidur di pesawat. Di bandara Makassar, satu jam lebih menunggu barang di terminal bagasi. Kecapean tidak duduk, demam kambuh lagi.
Berhubung mobil saya diparkir di Mapolsek Bandara, terpaksa ikut grabnya Bapak Direktur FAJAR Faisal Syam ke Mapolsek samping pintu masuk bandara. Kebetulan, Andi Mulyadi kenal baik Kasat Lantas Maros.
Dari bandara sampai di warkop Boegis Maros, saya masih bisa menyetir. Masih lanjut sampai Tahu Sumedang, saya sudah tidak sanggup lagi nyetir. Demam Kuan tinggi, seluruh vang terasa ngilu dan capek disertai ngantuk.
Kemudi pun saya serak kepada Sopir Jakarta yang masih bujangan itu. Flu berat ini saya derita sejak Kamis dini hari (10/2/22) di Kendari hingga Senin (14/2/22). Tapi Alhamdulillah sudah membaik.
Saya bersyukur karena sakit setelah tes Antigen sebelumnya. Sesuai ketentuan penerbangan saat ini, harus tes Antigen bagi calon penumpang yang divaksin dua kali. Bagi yang baru sekali vaksin atau belum vaksin, harus tes PCR.
Saya ikut vaksin pertama melalui Rumah Sakit dr. Hasri Ainun Habibie Kota Parepare pada 11 Agustus dan 14 September 2021. Bersertifikat dan telah terdaftar pada akun Peduli Lindungi. Dan dua kali tes Antigen hasilnya negatif. Jadi bagi warga yang belum vaksin, ayo mari kita vaksin. Saya malah sudah Vaksin boster bulan depan.
(Parepare, 15 Februari 2022)