VOICE PAREPARE — Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I dengan Forum Masyarakat Bahagia terkait pengangkatan dan penempatan ASN di lingkup pemerintah Kota Parepare sedikit berjalan alot. Pasalnya, rapat diwarnai adegan ketegangan diantara peserta rapat.
Salah satunya, aksi tegang antara Ketua Komisi I DPRD Parepare, Rudy Najamuddin dengan peserta rapat H. Rahman Saleh. Pada sesi pembukaan, giliran Rahman Saleh yang berbicara. Ia menyinggung posisi para anggota legislatif dibalik carut-marutnya pemerintahan kota Parepare saat Wali Kota Parepare Taufan Pawe memimpin.
“Ada ikhtiar kami mengembalikan marwah pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance) sesuai koridor. Kami hadir disini tidak ada membawa misi sakit hati, tapi semata-mata ingin mengembalikan sistem pemerintahan yang demokratis. Karena apa yang saya lihat dan saya alami, pemerintah kota saat ini seperti sistem kerajaan,” papar Rahman Saleh
DPRD juga kata Rahman harus kembali ke marwahnya untuk tidak lagi menjadi juru bicara pemerintah kota yang hanya menjadi pelengkap penderita.
“Mohon maaf, disini ada pak Rudy Najamuddin yang kami harap dulu menjadi macan, tapi saya tidak tahu sekarang sudah melempeng,” bebernya
“Saya tidak seluruhnya menyalahkan eksekutif, yang saya juga pertanyakan, DPRD selama ini fungsinya apa, kenapa bisa ada penyimpangan aturan mengenai birokrasi, semua dilabrak. Itu karena DPRD tidak berfungsi,” cecar Rahman
“Jadi saya berharap DPR segera kembali ke jalan yang benar jangan hanya memikirkan perjalanan dinas. Coba saya sering datang kesini, tapi baru ketemu dengan pak Rudy Najamuddin, padahal sekian lama kami kesini,” tukasnya.
Rudy Najamuddin yang tampak duduk bersebelahan dengan Rahman Saleh memotong pembicaraan. Ia lalu mencounter apa yang disampaikan Rahman Saleh, prihal memojokkan kinerja dirinya di DPRD.
“Anda tadi bilang tidak sakit hati, tetapi bahasa anda seperti sakit hati. Haruskah saya melapor ke anda apa yang saya kerjakan disini,” timpalnya.
Rudy menjelaskan bahwa fungsi DPRD sebagai fungsi anggaran, legislasi dan pengawasan sudah berjalan. Bahkan ia mengaku sempat diancam akan dibunuh karena menjalankan fungsi pengawasannya.
“Saya harus jelaskan disini bahwa saya disini menjalankan fungsi saya, fungsi anggaran, fungsi legislasi dan fungsi pengawasan, malah saya diancam pembunuhan gara-gara menjalankan fungsi pengawasan, anda tidak tahu dan anda cuma berasumsi. Anda juga pernah anggota DPRD, memangnya saya harus lapor ke anda apa yang saya lakukan disini, siapa memang anda,” kata Rudy
“Cuma anda perlu tahu di DPRD ini kolektif kolegial, saya selalu melawan tapi tidak bisa keluar,” beber dia.
Peserta rapat yang lain sempat melerai adu pendapat diantara keduanya agar berhenti, dengan mengalihkannya pembicaraan pada pokok pembahasan.
Namun kedua tokoh bersepakat bahwa sistem di DPRD seharusnya memang berjalan alot dan diwarnai silang pendapat seperti itu dan menganggap itu adalah hal yang biasa.(*)