Beranda ยป Proyek Penimbunan Pelataran UMKM Dikritik Tak Sesuai Perencanaan. Kabid Cipta Karya Bilang Begini

Proyek Penimbunan Pelataran UMKM Dikritik Tak Sesuai Perencanaan. Kabid Cipta Karya Bilang Begini

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kota Parepare, H Suhandi
Bagikan

PAREPARE, VOICE SULSEL — Proyek penimbunan pelataran UMKM di Kawasan Mattirotasi Waterpark tepatnya di samping Masjid Terapung Kota Parepare mendapat kritik dari pegiat LSM Kota Parepare. Melalui Sekretaris LSM Sorot, Andi Asrida, proyek tersebut dinilai tidak sesuai dengan komposisi volume pekerjaan dengan anggaran yang digelontorkan pemerintah sebesar lebih dari Rp 7 Miliar.

Proyek Penimbunan Pelataran UMKM yang disorot pegiat LSM Kota Parepare

Andi Asrida melihat ada celah korupsi pada proyek penimbunan pantai sekitar kawasan Masjid Terapung Habibie Kota Parepare itu. “Ada penimbunan di samping masjid terapung anggarannya RP 7 miliar lebih dari APBD tahun 2022. Setelah dilakukan pengumpulan keterangan data, potensi anggaran terserap hanya sebagian atau diduga tak sampai RP 7 Miliar,” katanya.

Asrida juga melihat keanehan pada proyek tersebut, sebab tertulis dalam perencanaan disebutkan ada waterpark, namun kenyataan dilokasi proyek tidak ada. “Anehnya perencanaan ada kata waterpark, tapi kenyataannya tidak ada dilokasi,” papar dia.

Dikonfirmasi akan hal itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kota Parepare, H. Suhandi mengatakan proyek tersebut benar adanya. Namun ia membantah kalau itu tidak sesuai dengan perencanaan yang ada. “Pasti keliru, karena kontrak kami kan pasti kontrak yang price, apa yang dikerja itulah yang dibobot, hasilnya diaudit oleh kami dan BPK sendiri,” kata Suhandi.

Suhandi menyebut luas areal yang ditimbun pada proyek pelataran UMKM itu mencapai 150×25 meter. Proyek tersebut kata dia sudah melalui proses perencanaan oleh konsultan perencana yang dilaksanakan oleh kontraktor dan diawasi oleh konsultan pengawas. “Semua sudah diperiksa dan dibobot lalu kemudian dikerjakan, setelah itu ada tim dari BPK melakukan audit,” jelasnya.

Sekaitan dengan narasi waterpark didalam nomenklatur proyek, kata Suhandi merupakan bagian tak terpisahkan dari Mattirotasi Waterpark. Kata dia, Mattirotasi Waterpark yang digagas pemerintah kota adalah pembangunan yang dilakukan di sepanjang kawasan pantai Mattirotasi dimulai dari Patung Kuda sampai Masjid Nurul Yasin Cappa Galung.

“Jadi itu diperencanaan kebetulan ada namanya Mattirotasi Waterpark, jadi setiap proyek yang dikerjakan disana menggunakan kata waterpark, seperti pembangunan masjid terapung di Mattirotasi Waterpark, lalu dilanjutkan dengan pembangunan Pelataran UMKM di Mattirotasi Waterpark. Artinya bukan Mattirotasi Waterpark, tetapi pelataran UMKM-nya, ini dikerja per bagian-bagian,” jelasnya.

Suhandi bilang penamaan Mattirotasi Waterpark agar jangan diasosiasikan sama dengan Bugis Waterpark, karena hanya merujuk pada satu kawasan yang disebut sebagai Mattirotasi Waterpark. Sehingga apa yang direncanakan sesuai dengan yang dikerjakan.

“Waterpark bisa didarat bisa juga di daerah pantai dan yang kami kerja pada tahun 2022 itu pelataran UMKM di Mattirotasi Waterpark, kesemuanya itu mendukung destinasi wisata religius yang dibangun bapak walikota,” tandasnya.(ak)