Beranda » Menhan Sjafrie Ingatkan Mahasiswa Unhas: Kita Hadapi Musuh Dalam Selimut

Menhan Sjafrie Ingatkan Mahasiswa Unhas: Kita Hadapi Musuh Dalam Selimut

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsuddin disambut pangdam Hasanuddin di Makassar Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsuddin disambut pangdam Hasanuddin di Makassar
Bagikan

MAKASSAR, VOICESULSEL – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsuddin, menyampaikan peringatan keras kepada mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) terkait bahaya korupsi yang disebutnya sebagai “musuh dalam selimut” yang mengancam masa depan Indonesia.

Hal itu disampaikan Sjafrie saat membawakan kuliah umum di kampus Unhas, Makassar, Selasa 9 Desember 2025.

Dalam pemaparannya, Sjafrie mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami kerugian besar akibat praktik under invoicing dan pengelolaan tambang ilegal selama lebih dari dua dekade terakhir.

Ia menyebut negara kehilangan sekitar 800 miliar dolar AS dalam 20 tahun terakhir karena praktik manipulasi perdagangan dan aliran tambang ilegal ke luar negeri.

“Ini musuh dalam selimut. Para pengusaha dan pejabat bekerja sama merugikan negara. Negara yang bahkan tidak punya sumber daya alam bisa menjadi produsen besar timah dunia karena timah kita disedot keluar secara ilegal,” tegas Sjafrie.

Timah Menghilang, Negara Merugi

Sjafrie menjelaskan bahwa sejak tahun 1998 hingga 2025, sekitar 80 persen hasil timah nasional mengalir keluar negeri tanpa pembayaran pajak maupun kewajiban lainnya. Padahal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Timah seharusnya mampu meraih pendapatan Rp20–25 triliun per tahun, namun saat ini hanya mencatat sekitar Rp1,3 triliun.

“Ini ironi bangsa 286 juta jiwa, tapi kekayaan alamnya dicolong begitu saja. Kita pernah memberantas penyelundupan timah pada 1977, tapi itu hanya bertahan 21 tahun. Setelah 1998 hingga sekarang, 80 persen timah kita hilang,” ujarnya.

Ia juga menyinggung potensi besar nikel dan mineral lain yang menurutnya banyak keluar melalui pelabuhan dan bandara tanpa pemeriksaan yang memadai.

Hutan dan Bencana: Tanda Peringatan

Sjafrie mengingatkan bahwa lemahnya pengawasan terhadap hutan lindung juga berkontribusi terhadap bencana besar yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

“Tuhan sudah memperingatkan kita. Karena hutan lindung tidak dijaga, terjadilah longsor dan banjir yang menelan 961 korban jiwa. Siapa yang salah? Kita sendiri,” katanya.

Mahasiswa sebagai Penjuru Masa Depan

Di hadapan mahasiswa, Sjafrie menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan masa depan Indonesia.

Ia menyebut ada tiga aliran dalam bernegara: ideologi, ekonomi, dan realitas. Menurutnya, Indonesia kini berada dalam fase aliran realistis, fase di mana bangsa harus bertahan dan melindungi sumber daya alamnya dari ancaman internal maupun eksternal.

“Anda sekarang berhadapan dengan buku, tetapi nanti akan berhadapan dengan kenyataan. Jangan biarkan kebohongan dan praktik ilegal terus merusak negara. Anda boleh menyalahkan kami, tapi Anda tidak boleh salah untuk masa depan,” pesan Sjafrie.

Ia kembali menegaskan bahwa korupsi merupakan ancaman besar bagi ketahanan nasional dan pemerataan kesejahteraan.

“Bersihkan hatimu, ikhlaskan dirimu. Korupsi membahayakan bangsa dan negara. Ini tanggung jawab kita bersama memperbaiki sistem ekonomi dan kemasyarakatan kita,” tutupnya.(*)