PAREPARE, VoiceSulsel – Siang itu, aroma khas peternakan sapi tercium di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Di tengah deretan rumah warga, tersimpan sebuah cerita perubahan besar: bagaimana kotoran sapi yang dulunya menjadi masalah lingkungan kini menjelma menjadi sumber energi bersih dan berkah ekonomi.
Sejak tahun 2021, Kampung Energi Berdikari Bacukiki menjadi bukti nyata bahwa inovasi sederhana dapat mengubah wajah desa. Program yang diinisiasi Pertamina Fuel Terminal (FT) Parepare ini bekerja sama dengan Kelompok Peternak Tangguh untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik.
Dari Masalah Menjadi Solusi
Sebelum program ini hadir, warga Watang Bacukiki beternak sapi secara lepas liar. Sapi-sapi itu kerap merusak lahan pertanian, sementara kotorannya mengotori lingkungan. Perselisihan antara petani dan peternak pun kerap terjadi.
Namun, semua berubah ketika Pertamina menawarkan ide: mengubah kotoran sapi menjadi sumber energi baru terbarukan. “Awalnya masyarakat tidak menyangka, yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa jadi energi untuk memasak,” kata Firman, Community Development Officer FT Parepare, saat berkunjung ke lokasi, Rabu (13/8/2025).
Teknologi Sederhana, Manfaat Besar
Di tengah kampung, berdiri reaktor biogas berkapasitas 12 meter³. Kandang sapi langsung tersambung dengan reaktor, sehingga kotoran bisa masuk secara otomatis tanpa harus dipindahkan manual.
Prosesnya sederhana: kotoran dicampur air, masuk ke dalam digester anaerobik, lalu difermentasi oleh mikroorganisme hingga menghasilkan gas metana. Gas ini dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah warga. Sisa fermentasi diolah menjadi pupuk organik yang kaya nutrisi.
“Untuk tiga ekor sapi, gasnya cukup untuk kebutuhan memasak 3–5 rumah tangga,” ujar Sudirman, sekretaris Kelompok Peternak Tangguh, sambil menunjuk kompor yang kini tak lagi menggunakan LPG. “Sejak ada biogas, saya tidak pernah beli gas elpiji lagi. Semua masak dari kotoran sapi,” tambahnya sambil tersenyum.
Energi yang Menghidupi dan Menyatukan
Kini, bukan hanya rumah tangga yang terbantu. 30 kepala keluarga di 10 titik lokasi wilayah itu telah merasakan manfaat program ini. Para petani mendapat pasokan pupuk organik, peternak mendapat solusi limbah, UMKM terbantu dengan biaya energi yang lebih murah, dan lingkungan menjadi lebih bersih.
Bagi Lurah Watang Bacukiki, Nur Muhlisa, program ini lebih dari sekadar proyek energi. “Biogas membantu perekonomian, kesehatan, dan bahkan program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsyat). Kami bangga karena ini membuat kelurahan kami meraih peringkat 2 nasional Kampung Keluarga Berkualitas,” ujarnya.
Keberhasilan ini bahkan menarik minat pihak luar. Watang Bacukiki kini dilirik sebagai desa wisata edukasi energi terbarukan, yang siap menerima kunjungan pelajar dari dalam dan luar negeri.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Kampung Energi Berdikari Bacukiki mengajarkan satu hal penting: bahwa energi masa depan tidak selalu harus datang dari teknologi canggih. Kadang, ia lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar, jika dikelola dengan ide, kemauan, dan kolaborasi.
Di tengah dunia yang terus mencari sumber energi bersih, cerita dari sudut kecil di Parepare ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kandang sapi. Dan di Watang Bacukiki, perubahan itu sudah berjalan mengubah bau tak sedap menjadi harapan yang harum bagi masa depan.