PAREPARE, voicesulsel.com — Panitia penjaringan Calon Rektor IAIN Kota Parepare kembali menerima pendaftaran bakal calon Rektor IAIN Kota Parepare periode 2022-2026. Dua bakal calon rektor, masing-masing, DR Muh Saleh M.Ag dan DR H. Hannani meramaikan bursa pencalonan rektor dihari terakhir pendaftaran, Senin 17 Januari 2022.
Ketua Panitia Penjaringan Calon Rektor, DR Iskandar mengatakan, berkas kedua calon tersebut dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat. Tahap selanjutnya kata Iskandar, adalah verifikasi berkas semua bakal calon untuk menentukan keabsahan dokumen.
“Untuk tahap selanjutnya, panitia akan memeriksa berkas seluruh bakal calon, jika terdapat kekurangan dokumen, maka kami akan hubungi,” ujarnya.

Iskandar menambahkan, panitia penjaringan akan membuka pendaftaran bakal calon hingga tanggal 17 Januari 2022 sampai pada pukul 16.00 wita. Hingga berita ini dibuat, jumlah pendaftar sudah mencapai 4 orang, yang terdiri dari 3 Wakil Rektor dan 1 orang anggota senat institut.
Sekretaris Panitia, Nur Nahdiyah mengatakan proses verifikasi berkas bakal calon akan dilaksanakan pada tanggal 17-18 dan hasilnya akan diumumkan pada 18 Januari sebelum pukul 16.00 wita. “Jadwalnya kan sampai tanggal 20 penyerahan, tapi diinternal sudah kami sampaikan bahwa, tanggal 18 hasil verifikasinya diumumkan, kemudian ada jedah satu hari untuk menerima sanggahan. Kalau tidak ada sanggahan maka kami lanjut untuk penyerahan hasil verifikasi kepada rektor,” katanya
Sementara bakal calon rektor IAIN DR Muh Saleh mengaku optimis dapat terpilih. Dirinya maju semata-mata karena ingin berkontribusi kepada IAIN Parepare. “IAIN Parepare kan sudah maju, dan saya ingin lebih maju lagi, unggul sebagai pengembang moderasi beragama dan pengembang digitalisasi,” paparnya.
Tekad yang sama diungkap KH Hannani. Kiyai nyentrik ini mengatakan akan mewujudkan IAIN menjadi universitas unggul jika kelak dipercaya sebagai rektor. Ia juga bertekad menjadikan IAIN sebagai pusat kajian keisalman, sains dan budaya sesuai nilai-nilai yang dianut oleh bangsa indonesia khususnya ummat islam, serta membangun kebersamaan dengan semua civitas akademika.
“Rektor itu hanya ketok palu, tapi yang punya gagasan itu civitas akademika, jadi harus berangkat dari situ, menyimpulkan keinginan-keinginan mereka,” paparnya.(*)