PAREPARE, VOICESULSEL — Safari Shalat Subuh berjemaah yang digagas Majelis Syuhada Kota Parepare terus menunjukkan dirinya bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan telah menjelma sebagai gerakan moral dan spiritual masyarakat. Jumat, 9 Januari 2026, ratusan jemaah memadati Masjid Binti Marwati Kompleks Perumahan Mario City, Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, hingga meluber ke halaman masjid.
Pemandangan tersebut menjadi penegas bahwa semangat berjemaah di waktu subuh—yang selama ini dikenal berat bagi sebagian orang—mampu digerakkan ketika dilakukan secara kolektif dan berkesinambungan. Cuaca yang bersahabat dan kesiapan panitia memungkinkan shalat tetap berlangsung khusyuk meski sebagian jemaah berada di luar ruangan.
Safari ini juga memperlihatkan lintas generasi dan lintas peran sosial yang menyatu dalam satu barisan. Sejumlah tokoh turut membersamai, di antaranya mantan Kadis Pendidikan Kota Parepare H. Anwar Saad, mantan anggota DPRD Kota Parepare H. Minhajuddin Ahmad, mantan Sekretaris KPU Kota Parepare H. Nurdin Amin, Ketua Persatuan Pensiunan BRI Kota Parepare H. Irwan Terreng, serta para imam, muballigh, pegawai syara, pengurus masjid, dan majelis taklim se-Kota Parepare.
Bertindak sebagai imam, Ustadz Abd Rahman Rahim memimpin shalat subuh dengan khidmat. Sementara Ketua DKM Masjid Binti Marwati, Ramon Samora, S.Sos, dalam sambutan penerimaannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Majelis Syuhada memilih masjid mereka sebagai lokasi safari.
Ia menilai kehadiran jemaah dalam jumlah besar menjadi energi positif bagi pengurus dan masyarakat sekitar.
Penceramah singkat, Dr. Badaruddin Haba, Lc., MA., PhD, menekankan bahwa shalat berjemaah bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi proses pembentukan karakter. Menurutnya, kebaikan sering kali memang harus diawali dengan perjuangan, termasuk melawan rasa nyaman tidur di waktu subuh, sebelum akhirnya menghadirkan ketenangan dan nikmat berada dalam ridha Allah.
“Shalat lima waktu dan shalat sunnah lainnya menggugurkan dosa-dosa. Kebaikan itu kadang harus dipaksa di awal, namun ujungnya adalah kenikmatan spiritual yang tidak tergantikan,” ujarnya.
Sementara itu, Muassis Majelis Syuhada, H. Baktiar Syarifuddin, SE, menegaskan bahwa konsistensi menjadi kunci utama gerakan ini. Ia menyebut kehadiran jemaah yang melebihi kapasitas masjid sebagai bukti bahwa safari subuh telah diterima luas oleh masyarakat.