VOICE PAREPARE — Berbagai pihak menuding perusahaan listrik negara (PLN) khususnya untuk wilayah Sulsel dan sekitarnya tidak mampu memberikan pelayanan profesional. Pasalnya, hingga saat ini, PLN masih terus memberlakukan pemadaman bergilir dengan durasi 4-5 jam setiap hari. Hal ini kemudian memantik masyarakat untuk bersuara, kalau PLN dinilai tanpa solusi.
Sejumlah pendapat masyarakat mengeluh akan pemadam listrik yang semakin bertambah parah. Khususnya bagi kalangan pengusaha UMKM yang membutuhkan listrik. Ditambah keluhan warga masyarakat umum yang juga turut melayangkan kritiknya. Tak ayal, media sosial pun penuh dengan sindiran akan pelayanan PLN.
“PLN kita ini tidak solusi untuk mengevaluasi pemadam listrik yang sesungguhnya merugikan masyarakat,” ungkap sejumlah netizen melalui media sosial mereka.
Bukan tanpa sebab, masyarakat khususnya yang bergerak dalam dunia usaha pun merasa terganggu dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PLN. Karena membuat produksi yang menurun hingga berpotensi kerugian. Bahkan, akibat dari pemadaman listrik bergilir juga diduga dapat memicu terjadinya kebakaran.
Menjawab keluhan masyarakat itu, Team Leader Operasi PLN UP3 Parepare, Fadhil mengungkap bahwa saat ini kondisi pasokan listrik terganggu akibat menurunnya debit air pada aliran sungai disekitar PLTA Bakaru. Akibatnya, produksi listrik PLTA dari 850 megawatt turun menjadi 200 megawatt.
“Pada kondisi normal, daya mampu pasok (DMP) yang dibutuhkan Sulawesi Bagian Selatan mencapai 2300 megawatt, dengan kontribusi dari PLTA 850 megawatt. Beban puncak terjadi pada malam hari berada dikisaran 1800 megawatt atau tersedia reserve margin 21,7%. Dan ini sebenarnya cukup ideal sebelum terganggu oleh fenomena el-nino yang mengakibatkan debit air untuk PLTA menurun yang berdampak pada menurunnya produksi listrik PLTA, dari 850 megawatt ke 200 megawatt,” katanya kepada wartawan seperti dikirim dalam rilis.
Praktis kata dia, beban defisit pasokan listrik ditanggung PLTU, namun itupun jatuh tempo untuk dilakukan pemeliharaan. “Saat ini petugas PLN berupaya semaksimal mungkin melakukan pemeliharaan PLTU agar sesegera mungkin mesin-mesinnya dapat kembali beroperasi maksimal menopang pasokan sistem listrik sulbagsel yang terhubung mulai dari Sulsel daratan, Sulbar, Sulawesi tengah dan Tenggara,” papar dia.
Upaya lain yang dilakukan dengan melakukan modifikasi cuaca agar hujan turun di sekitar bendungan di wilayah Kabupaten Mamasa serta lokasi sekitar PLTA Bakaru. Sebab, pasokan listrik terbesar hanya bergantung pada PLTA Bakaru.
Namun, ia memperkirakan, normalisasi pasokan listrik akan lebih baik pada bulan Desember mendatang. Dibanding dengan bulan-bulan lalu, pemadaman yang tidak akan separah saat ini lagi. “Ada kabar bulan depan tidak separah ini lagi, yang bikin parah ini karena PLTA dan PLTU keluar dari sistem, sementara PLTB Sidrap dan Jeneponto hanya bisa menyuplai hingga 100 megawatt,” jelasnya.(ak)