VOICE SULSEL — Sejumlah pedagang pasar Lakessi menggeruduk kantor DPRD Parepare, Senin pagi 10 April. Mereka datang untuk menyalurkan aspirasinya terkait relokasi pedagang yang dilakukan pemerintah kota Parepare melalui Dinas Perdagangan.
Sekira ratusan pedagang memadati gedung Wakil Rakyat itu menyuarakan protes atas tindakan pemerintah merelokasi pedagang pasar. Mereka juga meminta untuk menunda relokasi dan meminta pertanggungjawaban atas kerusakan dan kehilangan barang pasca pembongkaran yang dilakukan petugas.
“Kami minta tanggung jawab dari Dinas Perdagangan atas kerugian kami. Beberapa barang dagangan yang rusak dan hilang saat kami direlokasi oleh petugas,” kata Lutfi.
Lutfi juga menyesalkan pembagian lods yang tidak jelas. Sebab ada satu lods tapi punya tiga nama pemilik. Pedagang lain menyesalkan lods yang disiapkan pemerintah sangat sempit seukuran sekira 1 meter persegi, padahal pedagang membutuhkan lapak yang lebih luas.
Sementara Kadis perdagangan, Prasetyo Catur menegaskan tugas dan fungsinya untuk menjadikan pasar lebih baik, bersih dan sehat dengan bahan pangan berkualitas.
“Ini sesuai keputusan forkopimda bahwa pedagang pasar harus direlokasi untuk menata pasar agar bersih dan sehat,” katanya.
Ia juga menyampaikan ke UPTD pasar agar tidak membebani pedagang karena pedagang merupakan mitra untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Terkait pendataan, Prasetyo Catur meminta untuk mendata ulang para pedagang sekaligus menentukan zonasi.
UPTD Pasar, Tamrin menyebut lods yang disiapkan pemerintah sebanyak 315, sementara pedagang diluar hanya 300, sehingga cukup untuk mengcover pedagang yang ada.
Ia juga menyebut sosialisasi relokasi sudah dilakukan sejak lama dengan membagikan brosur pada 28 November 2022 lalu. Serta menghimbau kembali pada16 Maret 2023 dan pada 3 April
“150 pedagang sudah tanda tangan surat peryataan,” ujarnya.
Kepala pasar Lakessi Muhammad Ramlan mengaku sejak diberikan tanggung jawab di pasar pada 27 Januari lalu, dirinya ditugaskan untuk penataan dan penertiban karena pasar yang dinilai semrawut, kotor, becek dan bau.
“Pertama saya masuk tidak sertamerta melaksanakan relokasi, saya juga memahami karakter pasar karena saya anak pasar selama 27 tahun mengurus gerbang niaga,” paparnya.
Namun banyaknya pedagang mengeluh, khususnya pedagang didalam, sehingga diambil langkah tersebut. “Jadi kepentingan itu bukan cuma kepentingan pedagang diluar yang didengar, keluhan orang didalam, karena tidak ada pembeli, sebab diluar terlalu ramai padahal itu bukan area pasar. Kami tidak pernah ingin memusuhi pedagang, itu semua untuk kebaikan,” tuturnya. Pada pertemuan tersebut disepakati untuk menunda relokasi hingga seusai ramadhan.(ak)