VOICE PAREPARE — Sejumlah pihak menilai Pj Wali Kota Akbar Ali sudah bekerja baik selama dilantiknya menggantikan Taufan Pawe 31 Oktober lalu. Hal ini menjawab tudingan tokoh akademisi Unhas Prof Ilmar dan Anggota Fraksi Golkar Sulsel Rahman Pina yang melayangkan kritik terhadap PJ Walikota Parepare sebab menunjuk Mantan Sekda Parepare Iwan Asaad sebagai Staf Khusus dirinya.
Tokoh dan mantan birokrat di Pemerintah Kota Parepare, Amran Ambar angkat bicara terkait adanya tudingan yang menyebut Pj Wali Kota Parepare, Akbar Ali menciptakan kegaduhan khususnya dengan pengangkatan Iwan Asaad menjadi Staf Khusus.
Amran Ambar yang juga Ketua Jaringan masyarakat pemerhati Parepare dan ketua Dewan Penasihat Lembaga Pengawas Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Komisariat Cabang Parepare justru balik mempertanyakan di mana letak kegaduhannya. Ia khawatir kegaduhan yang dimaksud adalah sebuah opini sengaja dihembuskan untuk mempengaruhi akal sehat secara subjektif.
Kata Amran, jika Pj Wali Kota dianggap menciptakan gaduh karena menunjuk Iwan Asaad jadi Staf Khusus, Amran justru menilai, kebijakan Pj Wali Kota itu sudah tepat, karena semua pemimpin yang ingin sukses tentu memilih staf yang dianggap mampu bekerja sama, sebab tidak semua orang yang dianggap minim juga dianggap minim bagi orang yang lain namun mungkin sebaliknya dianggap sangat berkapasitas bagi pemimpin lainnya.
“Ini seharusnya dipahami, gaya kepemimpinan seseorang sering berbeda. demikian juga masyarakat, tidak semua kepala daerah dapat berhasil pada daerah/masyarakat yang memiliki karakter dan culture yang berbeda,” ujarnya.
Iwan Asaad sebut Amran Ambar, adalah mantan Sekda Parepare sebagai birokrat yang teruji melalui SELTER serta memiliki pengalaman karier berjenjang sebagai birokrat. “Artinya pak iwan juga di gunakan oleh walikota lalu, mengapa saat PJ.walikota memanfaatkan dianggap membuat gaduh, amran berharap agar yang menganggap gaduh tidak melihat masyarkat parepare bodoh bodoh amat,” jelasnya.
Sementara jika dinilai Staf Khusus itu tidak memiliki nomenklatur, Amran justru menekankan bahwa bisa dibuatkan nomenklatur. “Apa bedanya pemerintahan sebelumnya yang memiliki tenaga ahli, konsultan hingga penasihat hukum. Jadi pernyataan itu ibarat jeruk makan jeruk,” tegasnya.
Amran mengemukakan, sebaiknya Pj Wali Kota didukung untuk berimprovisasi yang dianggap baik untuk organisasi dan baik untuk masyarakat dalam menjalankan pemerintahan. Karena dia memberikan kebebasan bagi ASN untuk berekspresi dan berkreasi dalam bekerja. Tidak ada lagi tekanan bekerja karena tendensi kewenangan dan kekuasaan.
Amran Ambar yang selama ini mengasingkan diri disebuah lembah merasa kaget dan sangat aneh baru kali ini selama hidupnya mendengar ada perpisahan bahagia dari masyarakat terhadap kepala derahnya dan ini tidak lazim yang membuat dirinya turun memperjelas kira kira dosa apa yang dibuat oleh walikota Taufan Pawe yang dimaksud semasa menjabat.
“Tidak bisa dipungkiri keberhasilan pemerintahan sebelumnya secara fisik memang cukup mencengangkan namun dari dimensi lain banyak hal yang masih perlu dipertanyakan, dalam teori kepemimpinan karakter dan gaya kepemimpinan terkadang memiliki kekurangan.
misalnya bagaimana gaya memanusiakan bawahan, ada yang sulit berterima kasih secara ikhlas kepada bawahan dan ada sulit meminta maaf seakan menjadi sumber kebenaran,” terangnya.
Sementara nurani terkadang berontak dan berkata kami cinta pekerjaan kami cinta jabatan, namun kami lebih cinta harga diri. Suatu pertanyaan yang mengusik benaknya, mengapa beberapa personel yang ditawari jabatan kadis, kepala badan menolak dipromosi dengan bahasa sangat santun bahkan ada yang baru menjabat mundur.
“Yang mengherankan juga beberapa OPD yang pejabatnya belum defenitif dibuka peluang untuk selter secara apik dan terorganisir ternyata hasilnya peringkat 1, 2 dan 3 tidak dipromosikan.??? bahkan ada ASN yang telah lulus selter kembali mengikuti salter berikutnya. Sepertinya salter yang dilakukan tak mengacu pada rencana strategik dan kebutuhan,” tambah Amran.
Padahal esensi sebuah kepemimpinan kuat kata dia, di mana didalamnya orang-orang rela bekerja tanpa harus diperintah, disamping itu sorang pemimpin sejati tidak pernah bermimpi untuk menjadikan keluarga berkuasa, tetapi hanya bermimpi bagaimana mengubah dunia.