Pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi Negeri Konoha. Sebuah negeri yang konon makmur, adil, dan menjunjung tinggi hukum. Setidaknya, begitulah yang selalu terdengar dalam pidato para pemimpinnya.
Pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus. Bandara tampak megah, jalanan ramai, pusat perbelanjaan dipenuhi pengunjung, dan warung kopi tak pernah sepi. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Orang-orang masih tersenyum, bercanda, dan menjalani hidup seperti biasa. Seolah tak ada awan gelap yang menggantung di langit negeri itu.
Seorang kawan menjemput saya dan mengajak berkeliling. Sambil menikmati secangkir kopi, ia berbisik, “Jangan tertipu oleh pemandangan. Negeri ini sedang sakit.”
Saya tertawa. Sebab sakit yang ia maksud tidak terlihat di rumah sakit, melainkan menjalar di ruang-ruang kekuasaan.
“Di sini,” katanya, “hukum itu seperti plastisin. Bentuknya mengikuti tangan siapa yang sedang memegangnya.”
Saya mengira ia sedang bergurau. Namun semakin lama kami berbincang, semakin saya sadar bahwa di Negeri Konoha, kenyataan sering kali kalah oleh skenario.
Di negeri ini, hukum memang berdiri tegak, tetapi hanya di hadapan mereka yang tak memiliki kuasa. Sementara bagi mereka yang memiliki jabatan, uang, dan jaringan, hukum berubah menjadi kursi goyang: nyaman diduduki, sulit digoyahkan.
Konstitusi mengatakan semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum. Hanya saja, di Negeri Konoha, ada sebagian orang yang seolah berdiri beberapa langkah lebih depan daripada yang lain.
Saya bertanya kepada kawan itu, “Kalau hukum tidak lagi menjadi panglima, bagaimana rakyat bisa percaya?”
Ia hanya tersenyum sambil menyeruput kopinya.
“Percaya?” katanya pelan. “Di Konoha, kepercayaan lebih sering dibangun melalui pencitraan daripada keadilan. Yang penting kamera menyala, pidato terdengar indah, dan slogan dipasang di setiap sudut kota.”
Saya terdiam.
Konon Negeri Konoha adalah negeri demokrasi. Namun suara yang paling nyaring bukan selalu suara rakyat, melainkan suara mereka yang dompetnya paling tebal. Orang-orang menyebutnya oligarki. Istilah yang terdengar akademis, padahal maknanya sederhana: ketika uang lebih menentukan arah kebijakan daripada kehendak rakyat.
Di negeri dongeng, pahlawan biasanya menang melawan raksasa. Di Negeri Konoha, kadang raksasanya justru menjadi penulis naskah, sutradara, sekaligus penentu akhir ceritanya.
Menjelang pulang, saya menoleh sekali lagi ke arah negeri itu. Dari kejauhan, ia tampak indah dan mempesona. Namun semakin dekat mengenalnya, semakin banyak ironi yang tersembunyi di balik gemerlapnya.
Barangkali itulah sebabnya orang menyebutnya negeri dongeng. Bukan karena dipenuhi keajaiban, melainkan karena terlalu banyak kisah indah yang hanya hidup di podium-podium pidato. Sementara di luar sana, kenyataan terus berjalan ke arah yang berbeda.
Dan seperti semua dongeng, selalu ada harapan akan hadirnya akhir yang bahagia. Hanya saja, di Negeri Konoha, akhir cerita itu tampaknya masih terus ditulis dengan tinta kekuasaan.(*)