BONE – Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, dilaporkan ke Kepolisian Resor (Polres) Bone atas dugaan penganiayaan terhadap seorang staf Sekretariat DPRD Bone berinisial YNS, yang berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Laporan tersebut diajukan YNS di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bone, Jalan Jenderal Yos Sudarso, Watampone, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan insiden itu terjadi di lingkungan Sekretariat DPRD Bone. Peristiwa bermula ketika YNS mendapat arahan untuk menyiapkan konsumsi bagi tamu yang akan diterima di ruang lounge DPRD.
YNS menuturkan, awalnya ia telah menyiapkan dua porsi kue untuk dua orang tamu. Namun, belakangan ia kembali dihubungi dan diberitahu bahwa akan ada satu tamu tambahan.
“Saya bilang masih ada kuenya karena bisa dibagi dua. Tetapi kemudian diberitahu kalau kue untuk tamu sudah dibawa ke kantin. Saya lalu mengecek ke lounge dan menanyakan kepada petugas mengenai kue yang sebelumnya saya siapkan,” ujar YNS.
Menurut pengakuannya, setelah kembali ke ruang kerja, ia dipanggil oleh Ketua DPRD Bone untuk menemui yang bersangkutan di kantin kantor DPRD. Setibanya di kantin, YNS mengaku mengalami tindakan kekerasan.
“Sesampainya di kantin, satu bosara berisi kue dilempar ke arah wajah saya. Setelah itu saya disiram air, lalu botol air dan botol saus juga dilempar ke arah saya,” ungkapnya sambil tersedu.
YNS juga mengaku sempat dimarahi oleh Ketua DPRD Bone terkait persoalan konsumsi tersebut.
“Beliau mengatakan saya melarang orang makan kue, padahal saya tidak pernah melarang. Beliau juga mengatakan, ‘Siapa yang bayar itu kue?’,” tuturnya.
Merasa menjadi korban dugaan penganiayaan, YNS memutuskan menempuh jalur hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bone.
Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, membantah tudingan telah melempar bosara berisi kue ke wajah maupun botol ke arah seorang staf Sekretariat DPRD Bone yang melaporkannya ke polisi.
Menurutnya, tidak ada pelemparan yang ditujukan kepada pelapor. Ia menyebut bosara dan botol dilempar ke arah tanah sebagai bentuk luapan emosi, dan tidak untuk melukai siapapun.(*)