MAKASSAR – Kejahatan jalanan berupa penjambretan handphone (HP) masih menjadi ancaman serius di berbagai daerah di Indonesia. Modus yang cepat, pelaku yang nekat, serta kelengahan korban menjadi faktor utama yang membuat aksi ini terus berulang dan meresahkan masyarakat.
Berdasarkan sejumlah laporan media, penjambretan umumnya terjadi di ruang publik seperti jalan raya, gang sepi, hingga area ramai seperti car free day. Pelaku biasanya mengincar korban yang lengah, terutama saat menggunakan ponsel di tempat terbuka atau menyimpan hape mereka disaku tanpa pengamanan.
Modus Pelaku: Cepat dan Terorganisir
Kasus terbaru menunjukkan bahwa pelaku jambret sering beraksi menggunakan sepeda motor. Mereka mengintai korban dari jarak tertentu, lalu mendekat dan merampas handphone dalam hitungan detik.
Dalam sebuah kejadian beberapa waktu di Makassar, korban yang sedang berjalan kaki sambil bermain ponsel tidak menyadari dirinya telah dibuntuti. Pelaku kemudian memepet dan langsung merampas HP sebelum melarikan diri.
Tidak jarang, pelaku bekerja lebih dari satu orang. Ada yang bertugas sebagai pengemudi dan ada yang menjadi eksekutor. Bahkan, beberapa pelaku menggunakan tipu daya seperti berpura-pura bertanya untuk mengalihkan perhatian korban sebelum beraksi.
Kejahatan ini tidak hanya menyasar orang dewasa, namun justru anak sekolah atau mahasiswa pun menjadi target empuk, terutama saat bermain handphone di pinggir jalan atau saat berkendara sepeda motor di jalan. Tak jarang dari mereka saat berkendara menyimpan handphone di saku celana atau kantong motor yang mudah ditilep pelaku kejahatan.
Beberapa kasus menunjukkan korban anak-anak dengan mudah dijambret karena kurangnya kepedulian dan pengawasan dan situasi yang memungkinkan.
Motif Ekonomi dan Jaringan Penadah
Dari hasil pengungkapan polisi, pelaku penjambretan sering menjual hasil curiannya kepada penadah dengan harga jauh di bawah nilai pasar. Dalam satu kasus, pelaku menjual ponsel hasil jambretan untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Hal ini menunjukkan bahwa kejahatan jambret tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rantai kriminal yang melibatkan penadah barang curian.
Faktor Penyebab dan Kerentanan Korban
Beberapa faktor yang memicu maraknya penjambretan antara lain:
Kurangnya kewaspadaan masyarakat saat berada di jalan.
Kebiasaan menggunakan ponsel di ruang publik.
Minimnya pengawasan di lokasi tertentu
Kondisi ekonomi pelaku.
Penjambretan disebut sebagai salah satu kejahatan jalanan paling umum di Indonesia, dengan korban yang sering kali tidak siap menghadapi aksi mendadak tersebut.
Imbauan dan Upaya Pencegahan
Aparat kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berada di luar rumah, terutama dengan tidak menggunakan ponsel secara mencolok di jalan. Selain itu, penting untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan menghindari lokasi yang rawan kejahatan.
Jika menjadi korban, masyarakat disarankan untuk tidak melawan secara langsung demi keselamatan, segera mencari bantuan, serta melaporkan kejadian kepada pihak berwenang.(*)